Mei 27, 2017

Untuk yang Kuperjuangkan dengan Penuh Keyakinan

Entah mengapa untuk hal yang satu ini, aku terlalu berhati-hati untuk tidak menargetkannya dalam hitungan waktu. Memang benar juga kata orang-orang yang memiliki prinsip hidup dibawa enjoy aja, ngalir aja, lakukan aja, nikmatin aja yang ada didepanmu sekarang. Dan untuk urusan hati juga begitu, nikmati saja dulu apa yang ada didepanmu.
Pepatah mengatakan Jodoh ditangan Tuhan, dan saya meyakini betul akan hal ini, sama juga saya dengan meyakininya untuk terus diperjuangkan, agar kelak Tuhan memperkenankannya bergandengan di tangan kita.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku adalah perempuan yang biasa-biasa saja. Tak berupa ayu nan mempesona. Jika yang kau cari adalah yang cantik indah menawan parasnya, itu jelas bukan aku. Jika yang kau cari adalah yang lihai memacak ayu berpoles make up mahal, juga jelas bukan aku orangnya. Aku hanyalah perempuan yang biasa saja, yang hanya bisa tampil apa adanya aku, yang hanya bisa merawat dan menjaga apa yang Tuhan berikan padaku dengan apa adanya bukan dengan perawatan yang serba ber-merk lagi mahal.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku bukanlah perempuan yang berpenampilan fashionable ala wanita karir, aku juga bukanlah perempuan yang setiap hari menjaga wajah dengan make up tebal, bukan juga perempuan-perempuan yang eksis berkelana di media sosial, bukan juga perempuan yang hobi traveling tiap weekend tiba, bukan juga pelanggan kedai mahal dan terkenal dikalangan anak muda, apalagi yang fasih menyebut cafe-cafe hits ala anak kota, apalagi fasih menyebut makanan-makan western mancanegara, apalagi fasih menghafal lagu artis mancanegara. Jika yang kau cari yang demikian itu, jelas bukanlah aku. Aku hanyalah perempuan biasa saja, yang jauh dari kata glamour, hits, eksis, apalagi rajin melapor lokasi terbaruku saat ini di media sosial. Jika aku tak demikian, bukan berarti aku tak bisa bergaul, bukan juga berarti aku tak UpToDate, mungkin karena selera bergaulku tidaklah sama dengan lainnya. Tapi jika yang kau inginkan yang demikian, jelas bukan aku orangnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku bukanlah perempuan yang pandai ber-selfie didepan kamera, juga bukan perempuan yang luwes berekspresi kala cahaya lensa sengaja ingin menangkap gaya, juga bukan perempuan yang pede menjadi pusat perhatian orang banyak. Jika yang demikian yang kau cari dan inginkan, jelas itu bukan aku orangnya. Jika aku tak demikian, itu bukan berarti aku yang menutup diri, bukan pula berarti aku tak mempunyai kepercayaan diri. Karena aku memang tak berselera dengan hal yang demikian itu, aku hanyalah perempuan biasa saja, yang biasa berekspresi dibelakang layar, tidak untuk ajang pertontonan orang banyak. Bagiku melindungi diri dan menjaga diri dari komentar tangan-tangan di media sosial ataupun di alam nyata atas tindakan sendiri jauh lebih penting, daripada sengaja berpolah demikian. Namun jika yang kau cari yang demikian itu, jelas bukanlah aku orangnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Jika kau bertanya, dari kalangan mana kau berasal? Atau apakah kamu ada keturunan kalangan A, B, C dan kalangan-kalangan lain yang setara dengan darah biru lainnya. Mohon maaf, dengan penuh syukur dan bahagia kan kutakan darah yang mengalir dalam tubuhku saat ini adalah darah merah dengan kadar hemoglobin normal, yang siap di donorkan bagi yang membutuhkan. Aku hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tak ada darah biru, bangsawan maupun turunan ningrat. Namun jika yang kau cari yang demikian, jelas bukan aku orangnya.  Aku hanya berasal dari keluarga yang sederhana yang beruntung di lahirkan untuk hidup bersama dalam kesederhanaan, yang dididik layaknya pribumi lainnya, yang tak memiliki warisan harta berlimpah ruah. Orang tuaku hanya mewarisi agama, pendidikan dan norma-norma untuk bekal selanjutnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku hanyalah perempuan yang memiliki selera biasa saja, aku bukanlah pengoleksi tas branded, baju bermerk mahal, make-up endorse artist, juga bukan penikmat sepatu kaca, apalagi gaun ala-ala cinderella. Aku juga bukanlah perempuan yang pandai menge-mix and match baju saat keluar rumah, juga bukan perempuan yang pandai memilih parfum aroma Italia, apalagi hoby mengoleksi permata. Jika aku tak demikian, bukan berarti aku tak memiliki selera berbusana atau bersolek, aku punya selera namun yang tak demikian itu. Jika aku tak mengenakan pakaian dan fashion dengan standar brand yang demikian, itu bukan berarti aku tak peduli dengan penampilan.

Ya aku tahu, fashion adalah salah satu cara kita mengkomunikasikan diri kita kepada khalayak banyak, juga sebagai salah satu media untuk personal branding. Dan aku juga akan memilih cara berkomunikasi dengan caraku sendiri, tapi tidak dengan yang demikian. Aku hanyalah perempuan biasa, yang bagiku menutup aurat adalah prioritas utama, karena bagiku kecantikan perempuan tak dinilai dari se-fashionable apa yang ia kenakan, seberapa mahal dan se-branded apa merk yang ia beli. Bukan, bukan itu, bagiku perhiasan perempuan bukan kalung permata atau gelang berlian yang dikenakan, melainkan yang tak dapat dibeli, tak juga dijual di pasaran, juga tak dapat dinikmati secara massa. Bukan hal hal duniawi yang demikian, justru lebih dari itu, dan tak akan ditemukan di olshop manapun. Jika yang demikian yang kau cari, jelas bukan aku orangnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku hanyalah perempuan biasa, yang sedang berusaha bersolek didepan cermin kehidupan, yang hanya ingin berusaha membenahi sikap, tutur dan perilaku di hadapanNya. Aku hanyalah perempuan biasa yang keberadaanku mungkin sulit kau temui dikeramaian, yang keberadaan fisikku juga tak kan sering kau temui di media social. Bagiku bergaul tak melulu soal cafe dikelilingi music mendayu, tak melulu soal berselfie dengan bunga-bunga, tak melulu soal bergaya dengan tas branded, berdiri diatas heels mahal, atau berpose lenggak lenggok wajah miring depan kamera dekelilingi makanan dan minuman ala mancanegara.

Lagi-lagi aku percaya dengan salah satu firmanNya bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita. Karenanya untuk memperjuangkanmu yang kuingin tak hanya menemaniku kala di dunia saja, aku harus mempelajari lebih tentangNya, tentang bagaimana cara untuk terus memperbaiki diri, tentang bagaimana peran adam dan hawa. Agar kelak aku bisa menjadi perhiasaanmu yang abadi yang cantik dimata hatimu bukan karena make up, bukan karena gemerlap pakaian fisik yang kukenakan, bukan karena tas mahal yang aku tenteng, bukan karena permata yang kau lihat, juga bukan sepatu kaca yang membuatku berdiri.

Yang kuinginkan adalah menjadi cantik dimata hatimu satu-satunya karenaNya, akhlak sebagai pakaian ruhaninya, iman dan tuntunanNya sebagai pegangannya, kebeningan hati dan ketulusan adalah permata hatinya dan keyakinan diri untuk berada dijalanNya adalah pijakannya tempatku untuk berdiri teguh dengan iman. Aku tahu untuk menggapai semuanya tak semudah itu, maka aku terus memperjuangkannya. Agar kelak kita dipertemukan untuk saling membahagiakan tidak hanya didunia saja.

Wahai calon penyempurna agamaku. Jika saat ini kita belum dipersatukan, itu karena Dia tahu segalanya yang tepat untuk kita. Dia berikan waktu dan kesempatan pada kita, untuk masing-masing membenahi diri, untuk masing-masing saling mempersiapkan diri, untuk masing-masing saling mengenali kekurangan-kekurangan diri. Agar kelak jika sudah waktunya kita bisa saling melengkapi.
Wahai calon penyempurna agamaku, kala nanti kita dipertemukan, aku yakin kita ada karena memang untuk saling bersama. Aku yakin kita bersama untuk terus saling membutuhkan dan saling menginginkan satu sama lain, untuk menapaki satu persatu tangga kehidupan menuju jannahNya.

Dan jika suatu hari pertemuan kita menimbulkan penyesalan, itu adalah penyelasan yang terjadi karena kita menyesal mengapa kita tak dipertemukan sejak lama, mengapa kita tak dipersatukan sejak dahulu kala, mengapa kita tak bersama-sama membangun diri dalam satu tangga sejak lama, sejak awal kita berjumpa. Mengapa kita tak saling membahagiakan berdua sejak dahulu kala saat kita sama-sama memikirkan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan bersama. Cause I Know Two Will be Better if Together, its Perfect.

Wahai calon penyempurna agamaku, semoga kita memang sedang sama-sama menyemogakan dan memperjuangkan hal yang sama. Dan semoga yang ditiap tengadah tanganku, pada segenap kerendahan hati padaNya, yang kusebut namanu adalah sama dengan yang telah Dia tuliskan di Lauhul Mahfudz. Juga pun ketika nantinya kita dipersatukan bukan karena semata-mata saling melihat kelebihan, namun untuk saling melengkapi apa yang tidak ada pada masing-masing diri kita. Dan jika nantinya kita dipersatukan bukan karena pemikiran kita yang sama, hobi dan kesukaan yang sama, latar belakang yang sama, juga bukan karena prinsip yang sama. Aku yakin itu melainkan karena keyakinan kita yang sama. Keyakinan yang sama-sama untuk saling memperjuangkan agar bisa bersama. Keyakinan kita yang sama untuk sama-sama bersedia untuk selalu ada satu-sama lain, bersedia untuk selalu ada dalam penerimaan diri kita satu sama lain. Wahai calon penyempurna agamaku, aku yakin jika diri ini sedang berusaha bermuhasabah dan  mengevaluasi diri juga sedang berbenah diri, aku yakin kamu juga sedang sama-sama berusaha dan berjuang untuk itu, untuk aku kamu dan kita nantinya.

Jika saat ini kita masih berada pada jarak dan waktu yang berbeda, tak mengapa, semoga kita tetap pada satu keyakinan hati yang sama untuk menuju tujuan yang sama. Pada akhirnya diwaktu yang tepat Dia yang akan mempesatukan kita dan tepat pada waktunya dengan segala kehendakNya pada hakikat yang abadi. Dan kupastikan sedianya kini aku sedang berjuang untuk itu dalam penantian yang indah.

0 komentar:

Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut