Peter L Berger dan Thomas Luckmann beranggapan bahwa konstruksi sosial atas realitas muncul berkaitan dengan pemikiran manusia dan konteks sosial dimana pemikiran itu berkembang dan dilembagakan. Bagaimana gagasan tentang konstruksi sosial tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh media.
Konstruksi Sosial adalah penggambaran proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dialami dan dimiliki secara subyektif. Menurut Berger dan Luckmann terdapat dialektika antara individu yang menciptakan masyarakat dan masyarakat yang menciptakan individu. Dialektika tersebut tercipta melalui proses Eksternalisasi, Obyektivasi dan Internalisasi yang terjadi di dalam masyarakat.
Sebenarnya proses konstruksi sosial dalam masyarakat membutuhkan proses dan waktu yang lama. Namun seiring berkembangnya zaman yang semakin modern, proses konstruksi sosial ini mengalami transisi yang cepat, dari masyarakat yang lamban menerima informasi kini menjadi cepat dalam menerima informasi. Terlebih kini dengan hadirnya media yang menjadi salah satu agen konstruksi sosial atas realitas. Dan salah satunya adalah media televisi. Televisi membentuk realitas sosial sebagai gambaran realitas media atau realitas virtual yaitu dunia yang hanya ada dalam media televisi.
Televisi merupakan salah satu media yang paling mempengaruhi terciptanya konstruksi sosial dalam masyarakat tentang sebuah realitas. Substansi konstruksi sosial media massa adalah pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas sehingga konstruksi sosial yang berlangsung sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu juga membentuk opini massa, masyarakat menjadi lebih kritis dalam menerima informasi. Posisi konstruksi sosial media massa adalah mengoreksi substansi kelemahan dan melengkapi konstruksi sosial atas realitas, dengan menempatkan seluruh kelebihan media massa dan efek media pada keunggulan konstruksi sosial media massa atas konstruksi sosial atas realitas. Namun, proses yang digambarkan di atas tidak bekerja secara tiba-tiba, dan terbentuknya proses tersebut melalui beberapa tahap penting.
Sebenarnya media juga mempunyai keberpihakan terhadap kapitalis. Hampir semua televisi mempunyai kepentingan khusus sesuai dengan apa yang diinginkan sang pemilik industri media itu sendiri. Media menjadi ajang peraih keuntungan. Sehingga tujuannya sekarang adalah mengambil banyak keuntungan. Dan tidak sedikit dari media yang hanya sekadar menjual berita saja, dengan mempertontonkan berita yang berlebihan sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk menontonnya.
Seharusnya isi media itu objektif, sesuai visi misi media yang edukatif, entertaint, dan kontrol sosial. Namun kenyataannya akhir akhir ini tak pernah memberikan berita yang objektif, cenderung berisi kepentingan subjektif sang pemilik media. Dan pada kenyataannya apa yang media tampilkan cenderung ke bias realitas (tidak sesuai dengan realitas). Sehingga kecenderungan masyarakat selalu dikonstruksi oleh media, mengacu pada media, dengan kata lain media mempengaruhi masyarakat. Seringnya mendapat terpaan informasi, justru membuat masyarakat semakin menjadi bingung. Masyarakat dibingungkan oleh informasi yang bermacam macam, mempunyai versi yang berbeda-beda dari stasiun tv yang satu dengan stasiun tv yang lain.
Tahap pembentukan konstruksi realitas di mana pemberitaan telah sampai pada pembaca dan pemirsanya, yaitu terjadi pembentukan konstruksi di masyarakat melalui tiga tahap yang berlangsung. Pertama, konstruksi realitas pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbentuk di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang ada (tersaji) di media massa sebagai suatu realitas kebenaran. Kedua, kesediaan dikonstruksi oleh media massa, yaitu sikap yang pokok dari tahap pertama. Bahwa pilihan orang untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa adalah karena pilihannya untuk bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh media massa. Ketiga, menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif, di mana seseorang secara habit atau dalam kesehariannya tergantung pada media massa. Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak terpisahkan dan tidak bisa dilepaskan.
Kemudian konstruksi juga terjadi dalam konstruksi citra, yang dimaksud bisa berupa bagaimana konstruksi citra pada sebuah pemberitaan ataupun bagaimana konstruksi citra pada sebuah iklan. Yang selanjutnya adalah tahap konfirmasi, yaitu tahapan ketika media massa maupun pembaca dan pemirsa memberi argumentasi dan kepercayaannya terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasan-alasannya konstruksi sosial. Sedangkan bagi pemirsa dan pembaca, tahapan ini juga sebagai bagian untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.


0 komentar:
Posting Komentar