The Mc Donaldization of Society adalah konsep Goerge Ritzer yang dipengaruhi oleh perspektif Weber tentang konsep “rasionalitas”. Bagaimana konsep tersebut jika diterapkan untuk memahami pengelolaan dan perkembangan industri media terutama televisi.
Mc Donaldisasi adalah proses di mana berbagai prinsip restoran fast food hadir untuk mendominasi lebih banyak sektor kehidupan Amerika serta berbagai belahan dunia yang lain. Kehadiran McDonald benar-benar telah menempati posisi sentral dalam kultur masyarakat. Dimensinya meliputi efisiensi, daya prediksi, daya hitung, dan kontrol melalui teknologi non-manusia dalam kesatuan sistem operasionalnya. Orang-orang lalu tertarik, jatuh cinta, dan akhirnya berkutat dengan keempat komponen yang merupakan dasar sistem rasional tersebut. Semuanya dilakukan dengan tujuan rasional yang ujungnya menghasilkan keuntungan. Dan karena sukses, berbondong-bondonglah orang meniru prinsip di atas. Konsep Mc Donaldisasi ini mengedepankan birokrasi yang efisien, efektif, cepat, instan dan menguntungkan. Selain itu Mc Donaldisasi telah merubah habitual masyarakat secara paksa untuk menjadi sama, dan seolah gaya hidup Mc Donald ini menjadi poros utama referensi dalam memenuhi gaya hidup modern sehari hari.
Virus Mc Donald ini sesungguhnya berakar dari ide rasionalitas, yang bisa diartikan sebagai penggunaan pikiran untuk menentukan untung-rugi segala sesuatu. Pertanyaannya, benarkah semua prinsip itu membawa kita ke arah yang lebih baik?. Dalam beberapa hal, harus diakui ya. Tapi dalam banyak hal lain, yang terjadi adalah ironi. Manusia jadi kehilangan rasa kemanusiaannya. Hal ini tak mengherankan, karena manusia sesungguhnya hidup bukan hanya dengan rasionalitas, tapi juga nilai-nilai. Dan nilai-nilai tersebut, termasuk di dalamnya keyakinan/ iman, bisa jadi yang utama diperjuangkan ketimbang sekadar urusan untung-rugi.Dan dengan konsep rasionalitas inilah menimbulkan adanya homogenitas dimana masyarakat hanya mempunyai pilihan yang kecil yang telah tersistem menjadi pilihan yang optimal. Selain itu pada kenyataannya rasionalitas ini juga menimbulkan dampak dehumanisasi. Dimana hubungan interaksi antar manusianya berkurang dan terbatas.
Sepertinya, prinsip Mc Donaldisasi ini telah menjamur hingga ke seluruh dunia, tidak hanya pada industri pemenuhan kebutuhan makan saja, namun media kini nampaknya juga telah mengadopsi konsep ini. Industri media utamanya pertelevisian kini berlomba lomba menyuguhkan acara yang dapat menarik perhatian masyarakat, seperti misalnya ajang pencarian bakat, Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Akademi Fantasi Indonesia. Masyarakat hanya berpikir, ajang pencarian bakat ini adalah jalan satu satunya untuk merubah nasib mereka menjadi idola dan berpenghidupan layak. Dengan cara instan inilah para kontestan rela berbondong bondong antri berdesak desakan untuk melakukan audisi. Para penonton pun sekaligus pendukungnya juga rela mengantre panjang demi ingin memberikan semangat dan menonton idolanya. Setelah lolos audisi para kontestan ini dikontrol dan diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan juri. Prinsip kontrol inilah yang diadopsi dari Mc Donald. Hampir setiap stasiun tv mempunyai program acara pencarian bakat ini, yang terkadang tidak memprioritaskan kualitas keluarannya.
Konsep Mc Donald ini juga diterapkan dalam perindustrian bioskop atau tempat nonton film. Dimana bioskop itu birokrasinya telah tersususn secara sistematis. Mulai dari pembelian tiket atau ticketing, masuk kedalam ruang bioskop, hingga peraturan yang ada didalam bioskop, sampai sistem keluar ruang bioskop itu sendiri. Padahal sebenarnya jika dipikir ulang menonton film adalah hal yang biasa. Namun karena berkembangnya zaman, menonton film kini menjadi sebuah gaya hidup modern yang tak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia. Mereka lebih dianggap mempunyai status sosial yang tinggi jika nonton film di bioskop daripada hanya sekedar nonton film dirumah saja, walaupun sebenarnya film yang ditonton itu sama saja.
Sebenarnya menonton film dirumah itu lebih leluasa, lebih enak, lebih nyaman, dan bisa melakukan hal apa saja semau kita, tanpa terbatasi oleh peraturan yang ada seperti di bioskop pada umumnya. Namun sekali lagi karena gaya hidup yang telah berubah, dari hal yang biasa menjadi sesuatu hal yang luar biasa. Dari yang tradisional menjadi modern, dari yang membutuhkan proses hingga secara instan. Namun memang hal seperti inilah yang sepertinya diinginkan oleh masyarakat, yang ingin menjadi masyarakat modern seutuhnya. Walaupun sebenarnya mereka secara perlahan lahan sedang melunturkan sosialisasi yang bernilai dalam berinteraksi dan menjalani kehidupan sehari hari. Hal inilah yang disebut dehumanisasi, menurunnya hubungan sosial manusia yang satu dengan yang lain. Tidak ada proses tawar menawar harga, karena semuanya telah tersistem. Jadi komunikasi antar manusianya pun semakin berkurang.


0 komentar:
Posting Komentar