Mei 14, 2017

Maaf Jika Diam-diam Aku Menyebutmu dalam Doa

Yogyakarta, 5 Januari 2016



Dalam jantung kehidupan, ada satu yang selalu berhasil membuat manusia, menjadi senang, menjadi gembira, menjadi senyum-senyum sendiri, menjadi good mood, menjadi berubah tak beralasan, kadang gundah, kadang resah tak jarang juga rindu datang tiba-tiba, yaitu ketika rasa yang spesial itu mulai ada.  Aku pun bertanya, Kau begitu dahsyatnya memberikan satu rasa ini pada hati manusia, sungguh aku berusaha agar rasa ini tetap tidak berlebihan, dan tidak mengalahkan rasaku padaMu.

Teruntuk seseorang yang sering membuatku tersenyum-senyum, terimakasih sudah hadir dalam salah satu episode kehidupanku, kamu yang sudah merelakan rasamu jujur juga pada rasaku, dan akupun sama merasakannya, terimakasih untuk mau berbagi motivasi, berbagi semangat, berbagi ide-ide tentang apa saja, berbagi ilmu dalam pertemanan, menyatukan perasaan yang sama dan berbagi kisah bersama hingga saat ini.

Terimakasih untuk terus memegang harapan-harapan, bersama dalam satu rasa yang sama, memegang semangat dan tujuan yang sama, hingga saat ini. Hidup memang tak melulu lurus dan mulus, hidup tak melulu berwarna–warni seperti pelangi, atau seindah fatamorgana yang hadir dalam perpaudan panas dan hujan. Terkadang hidup perlu gelombang agar kita tidak mudah goyah, terkadang hidup perlu hembusan angin agar kita tak mudah tumbang, hidup juga butuh guntur agar kita tidak menutup diri dari kamlufase duniawi.

Saat usia rasa kita ini menginjak dewasa, tentunya akan ada perubahan tujuan-tujuan, yang tadinya kita naik tangga sendiri-sendiri, atau kadang naik tangga bergantian aku duluan atau kamu duluan, mulai berpikir untuk bisa naik tangga bersama-sama, membangun prinsip yang lebih bernilai, rasa yang tak sekedar rasa saja, saat suka dan duka saling hadir untuk ada, untuk cerita, untuk bertanya, untuk menjawab, untuk memastikan untuk mengerti, untuk memahami, untuk mau rela berkorban, untuk mau berjuang satu sama lain, bersama-sama. 

Untukmu yang mempunyai kejujuran rasa yang sama, terimakasih untuk mau mendewasa bersama-sama hingga kini, walau kita berada dibidang yang berbeda, walau kita berada di sifat yang kontras, terimakasih selalu ada alasan untuk kompak, terus ada untuk kita.
Tahukah kamu, entah mengapa dan entah kapan tepatnya mengapa hatiku dengan sangat rela mulai menyematkanmu dalam tiap sujud-sujudku, dalam kesehatan lahir batin, dalam nikmat iman , dalam kelancaran studimu, dalam kelancaran karirmu dan dalam kesetiaanmu untuk terus menjadi seseorang yang selalu ada dan menari nari dalam pikiranku.

Maafkan aku yang diam-diam berani menyebutmu dalam tiap sujudku, aku hanya berusaha menyeimbangkan rasa ini agar tidak berlebihan, aku hanya berusaha me-manage harapan ini agar tidak berlebihan, aku hanya  berusaha menata hati ini agar tidak berlebihan, dan aku hanya ingin menjalani fitrahnya sebagai manusia yang berikhtiar pada jalanNya, yang selalu berusaha dan berdoa penuh agar Dia mengijabah satu persatu yang dipanjatkan.

Maafkan aku yang diam-diam menyematkanmu dalam tiap sujudku, aku hanya berusaha meminta dengan sepenuh hati ditunjukkan padaNYa sebagai manusia yang diberi fitrah tidak bisa hidup sendiri, untuk teman hidup di dunia hingga akhirat yang setia dalam suka, duka, dalam iman, dalam ujian, dalam kegetiran, dalam kebahagiaan, dalam kasih dan sayang yang Ia ridhoi.

- Untukmu yang membuatku berhenti cukup pada satu hati, semoga Alloh menghimpun doa dan tujuan kita, mengijabahnya satu persatu diwaktu yang tepat -

*******************************************************************************



0 komentar:

Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut