Mei 21, 2017

PERNIKAHAN

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata pernikahan?
Bahagia, indah, menyenangkan, impian, cita-cita, surga, sempurna, so sweet, sakral, abadi, atau deg-degan, takut, seram, persiapan, kebutuhan, keinginan, penting, harus, disegerakan atau yang lainnya??? Silahkan bisa isi sendiri sesuai dengan perasaan, pemikiran dan cara pandang masing-masing ya.
Ya disini saya tidak akan menulis bab tentang pernikahan secara harfiah, ilmiah, dan lainnya. Cuma pengen nulis aja, tentang  PERNIKAHAN yang akhir-akhir ini sering jadi pembicaraan ketika ketemu teman baru, teman dekat, sahabat dekat, orang tua, keluarga, teman yang sudah kenal lama dan baru aja ketemu lagi setelah sekian bulan, sahabat karib bahkan tetangga, juga om tante, pak lik bu lik, menurut pengamatan yang saya alami sendiri beberapa bulan ini. 
Ehh tau gak sih, si A baru aja kemaren nikah, tapi gak sama pacar yang selama ini kita tahu, katanya sama yang lain, yang dulu itu udah udahan. Ehh tau gak sih si B kemaren baru aja nikah, padahal dia kan baru aja putus sama pacarnya, tiga bulan jomblo langsung ada yang ngelamar terus ngajakin nikah, wah bejo banget ya. Ehh tau gak sih si C kemaren juga baru aja nikah sama kenalan saudaranya cuma pake proses ta’aruf  tiga bulan aja langsung jadi, keren ya. Iya si D juga lhoo abis nikah hari kemaren malahan, pacarannya 10 tahun, awet banget yaa sampai nikah, semoga sampe kakek-kakek nenek deh awetnya amin. Lha, lo kapan? Hahahhahahhhaaha ngakak bareng, abis itu sedih. Hahahahhaha
Lanjut ke pertanyaan, KAPAN NIKAH. Teruntuk para pemuda pemudi yang jadi anak rantau, kalau kalian pulang kerumah, dan udah ketahuan kalian udah lulus studi atau udah dapet kerja, tapi masih ada bau bau belum sebar undangan atau digosipin punya pasangan, sedangkan anak tetangga kalian yang seumuran sama kalian udah pada sebar undangan, udah banyak yang tak lajang lagi atau udah ada yang launching baby baru, kalian pasti akan di serbu sama satu pertanyaan, KAPAN NIKAH. Entah gimana ceritanya, yang tadinya obrolannya tentang kerja dimana, kapan pulang, gong nya pasti ke pertanyaan KAPAN NIKAH, hahahhaha kayanya ini memang adatnya orang kampung saya, mungkin di tempat tinggal atau kampung kalian ga sehomogen ini pertanyaannya ya, ya baguslah. Tapi kalau kalian mengalami hal yang saya alami, yuk toss dulu!!! ngakak lagi, hahahhhah
Suatu hari, saya ketemu sama tetangga yang bisa dibilang jarak rumahnya jauhan tapi keluarga kami secara ikatan rasa dekat, halah, hahha jadi tetangga dekat gitu ceritanya. Awalnya ngobrol biasa lumrahnya tetangga yang jarang ketemu, terus ditanyain deh kapan nikah? Sambil nyengir kecut, dan minta doanya mawon nggih budhe (kenyatannya ya mbuh kapan, tapi dalam hati minta doa aja, yang penting dah) jawab saya. Iya kalau udah punya teman dekat yang serius, udah sama-sama punya pegangan, cocok, jangan lama-lama,  tapi jangan grasa-grusu (buru-buru) tapi nek wis wayahe luwih becik disegerakan. Nikah gak harus gebyar-gebyar, hura-hura, yang penting itu akad ijab qobulnya nduk, tapi kalau mau bikin syukuran ya sing penting pantes, juga sesuai kemampuan, tidak perlu mewah, yang penting tamu kopen (terurus). Wis tak dongakke ndang yo nduk, nek ncen wis duwe gandengan. Amiin budhe, jawab saya lagi. Begitulah obrolan singkat dari seorang anak rantau yang sedang balik kampung, bersama tetangga dekatnya.
Hai pernikahan, momentmu adalah dambaan setiap insan yang terlahir di dunia, momentmu adalah fitrah bagi setiap insan, momentmu adalah kebahagiaan seluruh isi jagad raya seluruh isi bumi. Kenapa begitu, nyatanya banyak yang menginginkmu wahai pernikahan. Ketika ijab qobul dilaksanakan, seribu malaikat  mendoakan dan Arsy-Nya bergetar. Dan yang diimpikan oleh insan bumi adalah pernikahan yang hanya satu kali seumur hidup.
Oleh karena itu perlu dipersiapkan secara matang, baik secara fisik maupun mental. Kenapa? karena pernikahan hampir seratus persen menyumbang dalam menentukan kebahagiaan hidup selanjutnya. Ya setelah menikah ada yang hidupnya makin bahagia ada juga yang hidupnya makin menderita. Ada yang rejekinya makin melimpah ada juga yang makin merosot. Ada yang makin makmur, ada juga yang makin terpuruk. Dan eiitss coba apa yang kalian pikirkan ketika melihat pernikahan yang berakhir di kantor pengadilan agama?. Dan janganlah juga ikut-ikutan memandang rendah mereka yang mengakhiri pernikahannya. Setiap manusia mempunyai hak nya untuk bahagia seutuhnya.
Dan ternyata kebahagiaan hidup manusia ada juga yang tidak sejodoh dalam pernikahannya. Mungkin dengan berpisah masing-masing dari mereka justru menemukan kebahagiannya kembali. Mungkin dengan berpisah apa yang selama ini menjadi beban hidupnya justru hilang dan bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
Dan siapa sangka, ada beberapa manusia bertopeng di dunia ini, kenapa? Karena penampilan dan ucapan-ucapan manisnya tak seindah kelakuannya di dalam rumah tangga. Karena perangai kalemnya  hanya sebatas personal branding semata dihadapan sesamanya. Siapa sangka di media sosial ia malah asyik berselingkuh kata dan rasa dengan yang lainnya, berawal dari saling like kemudian dilanjut pesan pribadi yang akhirnya keblabasan.  Ada yang berlisan hadis, membawa bawa nama Tuhannya ketika berbicara dengan sesamanya, ternyata dia tega bermain serong dengan perempuan lain. Siapa sangka penampilan yang berbalut agamiahnya, sampai hati berselingkuh dengan wanita sekantornya. Sungguh alangkah kejinya mereka yang menghianati janji di hadapan Tuhannya kala berucap ijab qobul.
Setianya tentu sangat dipertanyakan dan ketika pengkhianatan dalam rumah tangga sudah terjadi, tentu saja ada pihak yang tak hanya tersakiti, namun sudah benar benar musnah, hancur impiannya untuk membangun keluarga sakinahnya. Oleh karena itu tentu kita harus mengambil pelajaran banyak dari kisah dan kenyataan pahit seseorang yang mengalami hal demikian.
Dan tentu saja, karena pernikahan hampir seratus persen menentukan kebahagiaan hidup, tentu kita harus berhati hati ya. Berhati-hati dalam mengasah hati dan logika saat memilih pasangan. Penjual tentu saja akan memajang dagangannya dengan cara yang menarik, dan menjual dagangannya dengan produk yang bagus. Namun sayangnya tidak semua produk yang sejenis berkondisi sama, dan produk yang sama tersebut juga belum tentu bisa kita jadikan representasi produk sejenis. Maka jadilah pembeli yang cerdas yang dibekali dengan quality control yang baik pula. Pilihlah produk yang kualitasnya tidak hanya tampak luar, tapi juga dalamnya, perlu dicek secara teliti. Dan jika yang kita pilih makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna bernama manusia, pilihlah dengan tidak melihat hanya cantik atau tampan luarnya saja, tapi yang terpenting yang baik akhlaknya, tentunya yang mau menerima kita dan yang mencintai kita seutuhnya.
Setiap manusia menyukai hal yang indah, misalnya fisik yang indah, paras cantik, wajah ganteng, dengan kondisi yang normal, keluarga yang utuh, berkecukupan, dengan latar belakang yang baik, dan seterusnya dan seterusnya yang secara umum bisa dilihat, bisa disanjung, bisa dibanggakan. Tapi coba bayangkan hal-hal fisik dan bersifat dunia material yang semuanya itu merupakan kebalikan atau lawan kata dari yang baik-baik itu. Apakah kalian masih tetap mau bertahan masih tetap setia menyukai, masih tetap konsisten mencintai dan mengasihinya seperti saat pertama kali kalian melakukan pedekate dengan calon atau gebetan incaran kalian? Coba jawab dalam diri masing-masing.
Iya saat kita menjalani penjajakan dengan seseorang, menjalani hubungan dengan seseorang, cintanya kian hari, kian bertambah, setiap hari merasakan kerinduan yang tak terkira dan tak tertahan, jiwa raga tenaga pikiran kita rela untuk memperjuangkan seseorang yang kita kasihi dan sayangi. Bagi seseorang yang menjalani hal tersebut itu adalah bentuk dan wujud cintanya juga pengorbanannya kepada kekasihnya dengan tulus dan penuh keikhlasan. Namun bagi orang lain yang melihatnya, bisa saja kalian dianggap sedang mengalami cinta buta. Apalagi jika hubungan kalian ternyata hanya bisa dibawa sampai dipersimpangan jalan perempatan saja, sudah jelas akan di cap sebagai pelaku cinta buta.
Ada pepatah yang mengatakan, kita mungkin boleh naif dengan cara berpendapat kita, sudut pandang politik kita, naif dalam hal keilmuwan, tapi tidak dengan cinta. Cinta memang kata sifat yang didalamnya penuh dengan kata kerja yang sangat tidak bisa kita logika. Cinta adalah soal keyakinan, cinta tidak bisa kita takar sepenuhnya dengan logika. Iya cinta ini, kadang-kadang tak ada logika, oh inikah rasanya cinta, tapi ku cinta tak hanya pada paras wajahmu, tak pada fisikmu, tak juga pada apa yang kamu miliki, tapi dari cara pandangmu, dari cara kau mencintaiku. Begitulah cinta, ku tak ingin kau terluka, cinta kan membawamu kembali disini, membawa rindu, membasuh perih. Cinta mari kita rasa bersama dengan hati yang murni, yang menjadi sumber cinta, yang sejujurnya, seutuhnya. "Karena cinta sesungguhnya rasionalitas yang sempurna, cinta butuh pembuktian,  cinta juga butuh pertanggungjawaban. Banyak orang mudah untuk mencinta, tapi jarang yang berani mempertanggungjawabkan cintanya"
Dan sesungguhnya yang terjadi dipernikahan tak melulu soal yang indah-indah, lurus, mulus, kaya jalan tol, gak berlubang, dan seolah fisik akan terus sehat akan terus cantik mempesona, akan terus tampan menawan. Seolah jabatan, kekuasaan akan terus kita pegang, seolah tahta, akan terus menyangga kehidupan. Tidak melulu soal itu, akan ada banyak tiupan-tiupan topan, badai, mungkin juga tsunami yang sedikit dikirim dalam rumah tangga sebagai bentuk ujian praktek kesetiaan, kekompakan, dan iman. Disitulah ujian dan seni rumah tangga  yang sangat abstrak dan sangat sulit dimaknai, lalu jika itu terjadi apakah masih tetap mau menikmatinya bersama dengan sabar ikhlas, menerimanya dengan lapang dada.
Karena itulah menikah seharusnya menjadi sebuah keputusan yang lebih besar dari sekadar, merubah status single menjadi bersuami atau beristri, merubah status menikah dalam KTP, memecahkan jawaban tabu para tetangga terhadap pertanyaan kapan nikah, karena tekanan sosial, menghilangkan rasa kesepian, biar ada yang menafkahi lahir batin, biar ada yang masakin, biar ada yang cuciin baju, biar ada yang bikinin kopi tiap pagi, biar ada yang belanjain tiap bulan, biar ada yang ngimamin kalo sholat dirumah, biar ada pendamping kalau kondangan, biar ada partner ngetrip bareng.
Menikah tentu lebih dari itu, jauh lebih dalam maknanya dan menjalaninya lebih dari kebutuhan fisik belaka. Menikah adalah persoalaan menerima sisi buruk dan sisi baik seseorang, menerima diri seseorang dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menerima keluarga besarnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menerima masa lalu seseorang dan siap menjalani masa depan dengan seseorang  bersama. Menikah adalah persolaan rela dalam menjalani hak dan kewajiban masing-masing, menjalani dengan sadar rela ikhlas tanpa paksaan masing-masing peran suami dan peran istri. Menikah adalah persoalaan keikhlasan dalam menjalani kesenangan dan kesengsaraan bersama dengan ikhlas dan rela tanpa saling menyalahkan. Menikah adalah persoalan menerima perubahan baik fisik, psikis, mental dalam tiap keadaan yang terjadi dalam rumah tangga.  Menikah adalah persoalan siap membangun kehidupan bersama dari nol. Menikah adalah persoalan menjaga dan membangun sikap konsisten dalam jiwa masing-masing pasangan ketika memupuk kesetiannya detik demi detik. 
Menikah adalah persoalan saling menjaga kehormatan, saling menjaga aib bersama, saling menjaga harga diri suami dan istri, menjaga mata, telinga, hati, dari godaan nafsu syeitan dunia yang wujudnya bisa beraneka ragam. Menikah adalah persoalan menjaga perasaan masing-masing pasnagan, menikah adalah saling pengertian dalam rumah tangga, menikah adalah persoalan untuk rela mau saling berbagi suka dan duka, menikah adalah persoalan keimanan dan keyakinan bahwa Rejeki Tuhan Sudah Tertakar, dan Jodoh Tak Mungkin Tertukar.
Menikah adalah persoalan saling menjaga kekompakan bersama. Menikah itu tidak sulit, menikah itu murah, menikah itu tidak ribet, menjalaninya harus dengan ikhlas butuh ke iya an dan keyakinan sungguh-sungguh. Karena menikah adalah keputusan besar yang amat hebat, luar biasa, yang Alloh SWT berikan bagi seseorang yang sudah mengetahui hukum wajib menikah. Menikah adalah anugerah yang Alloh SWT berikan bagi seseorang yang memiliki kadar iman, keyakinan dan terus berkhusnudzon kepadaNya. Menikah adalah persoalan untuk berkeinginan belajar, mau membangun, mempraktikan, juga membuktikan bersama-sama wujud cinta yang sesungguhnya seserorang yang saling mencintai pada universitas kehidupan. Pernikahan tidak akan terjadi kepada salah seorang saja yang menginginkannya, kepada salah seorang saja yang berniat menyempurnakan agama. Tapi pernikahan terjadi kepada dua orang insan yang sama-sama siap, yang sama-sama menginginkannya, yang sama-sama berniat suci menyempurnakan agama dan berkeimanan kuat, juga memiliki keberanian yang sesungguhnya dalam membangun kehidupan baru pada penerimaan ketidaksempurnaan menjadi keluarga yang sempurna, dengan berkomitmen untuk terus berjalan dan selalu tetap bersama selamanya. 
Jadi saya sungguh salut untuk semua makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia, yang dalam menjemput agamanya telah disempurnakan untuk terus berjalan di jalanNya salah satunya dengan pernikahan. Karena bagi manusia yang masih takut rejekinya tidak bisa untuk mencukupi keluarganya nantinya, bagi manusia yang masih takut terampas masa senangnya, bagi manusia yang masih takut terampas masa-masa berkumpulnya dengan kolega atau temannya, bagi manusia yang masih takut tak bisa berkembang karena menikah, itu mungkin akan jauh untuk mendapatkan hidayah untuk membuat keputusan menikah. Manusia yang hanya berani mengumbar kata manis, pemberi harapan palsu, atau berharap pada harapan palsu itu mungkin masih jauh dalam menjemput hidayah untuk membuat keputusan menikah. Dan menikah juga persoalan menjawab sekaligus menghadapi tantangan dan ujian pepatah “Pria diuji kesetiaannya ketika ia memiliki segalanya. Wanita  diuji kesetiaannya ketika sang pria tidak memiliki apa-apa”. Dan itu tidak akan terjadi pada pernikahan yang dilandasi saling cinta dan saling memiliki keimanan yang terbangun dengan kemurnian hati. Katanya manusia memiliki kecenderungan untuk mendua. Tapi bagi saya hanya manusia yang hidupnya berpegang teguh pada imannya lah yang tetap bertahan untuk tetap satu saja apa pun dan bagaimanapun keadaan yang dialaminya. Karena seseorang yang memiliki kemurnian cinta pada pasangannya dan keimanan yang baik pada Tuhannya, justru tidak akan membiarkan rumah tangganya rapuh, tapi justru ia akan selalu berusaha sampi titik darah penghabisan membangun bersama demi istana sakinahnya menuju jannahNya. Tidak percaya? Coba lihat pernikahan kedua orang tua kita, kakek nenek, buyut kita jelas sudah teruji kesetiaannya.
Dan saya masih sangat sangatlah jauh dari itu, tapi saya selalu berusaha belajar dari orang-orang disekeliling saya, terimakasih kehidupan. Dan aku kan menjemputmu di waktu yang tepat dan tepat waktu.
Cinta dan jodoh satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, jodoh juga bukan perkara yang mana yang lebih mencintai atau hanya dicintai saja, tapi jodoh itu saling mencintai, jodoh itu bukan saling mencari, tapi saling menemukan, jika memang cinta dan yakin jodohmu ia tak kan membiarkanmu lama menunggu, namun memberimu kepastian. Bukan juga mencari yang sempurna, namun saling menyempurnakan :). 

0 komentar:

Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut