-Aku
dan mimpi-mimpiku yang indah menyatu bertemu pada sekotak hitam, putih dan
abu-abu. Lalu hancur, saat aku tersadar, kembali ke kenyataan.-
Kuawali ini dengan
kisah dalam sekotak hitam, putih dan abu-abu.
Maafkan aku wahai
diriku, yang saat ini masih berusaha keras untuk menghilangkan sosok kecewa. Baru
terungkap perasaan yang sungguh mengganggu di pikiran ini, menggulat erat,
mengerak hingga merapuhkan hati, yang seharusnya kuat menangkap sinyal-sinyal
dan cahaya yang terang.
Kurasa hari demi hari
berjalan amat lama, berjalan begitu sangat membosankan, terasa pahit dan
menderita. Jangan sekali-kali abaikan perasaan, dan kata hati. Jangan
sekali-kali mengabaikan bahasa hati, karena jiwamu yang merasakannya. Biarlah
yang menganggap remeh, biarlah yang habis kesabarannya melihat kondisimu,
biarlah. Dia adalah penonton yang memang memiliki hak berkomentar dengan sikap dan kata-kata sesuka
hatinya. Dan kau juga sungguh memiliki kuasa penuh atas hak jawab, bukan dengan
mulutmu, kau hanya cukup tidak mengatakan apa-apa. Karena kau hanya perlu lebih
menyatu dengan dirimu sendiri.
Saat bunga tidur jauh
lebih indah dari kenyataan, rasanya aku sangat menginginkan kehadiranmu dalam
tidurku untuk waktu yang sangat lama, biar waktuku tak terlalu lama menjalani
kenyataan yang buruk. Saat kau dikecam sebagai seorang yang labil, saat kau
dikecam sebagai seorang yang tidak seperti dulu lagi, saat kau dikecam sebagai
seorang yang lemah, saat kau dikecam sebagai seorang yang tak becus menjadi
tuan rumah diri sendiri, biarlah. Memang kukatakan kau tak mengalami apa yang
ku rasakan, hanya saja kau lebih dulu berhasil melewati masa lalumu.
Kiranya aku tak berlebihan, menginginkan untuk penerimaan, kiranya bagiku itu naluri perasaan, ingin mendapatkan timbal balik yang sama-sama tulus, dengan tidak memaksakan. Tapi tidak dengan sudut pandang yang lain, nyatanya memang tak semua yang berdasar rasa pada akhirnya bersudut pandang sama. Tapi biarlah, kenyataan tidak akan mungkin begitu, yang nyatanya pikiranku selalu seindah suwarga. Cukupkan untuk ini, karena aku tersadar kala kubuka mata, kenyataan yang sama masih kujalani.
Kiranya aku tak berlebihan, menginginkan untuk penerimaan, kiranya bagiku itu naluri perasaan, ingin mendapatkan timbal balik yang sama-sama tulus, dengan tidak memaksakan. Tapi tidak dengan sudut pandang yang lain, nyatanya memang tak semua yang berdasar rasa pada akhirnya bersudut pandang sama. Tapi biarlah, kenyataan tidak akan mungkin begitu, yang nyatanya pikiranku selalu seindah suwarga. Cukupkan untuk ini, karena aku tersadar kala kubuka mata, kenyataan yang sama masih kujalani.
Aku salah dalam
berharap, dan aku kurang tepat dalam menaruh harapan. Saat kuharap ada yang
akan selalu ada saat-saat dimana hanya ingin didengar, saat kuharap akan ada
yang selalu bisa sebagai tempatku bersandar keluh kesah, hei itu hanya ada pada
kisah sekotak hitam, putih dan abu-abu jika kau tak mengungkapkannya, dan kembali teringat jika ini
bukan magic. Apa yang aku lupakan, tak akan sama, dan apa yang selalu membuatku
ingat pun tak akan sama. Hingga pada akhirnya aku tahu apa yang membuatku lupa
denganMU dan apa yang membuatku terus mengingatMU.
Selama ini, perasaaku
yang terlalu besar, hingga aku lupa tak selamanya yang kau cinta akan sama-sama
mencinta seperti dirimu, hingga aku ingat kadar logika bisa saja membuat bosan padamu sewaktu-waktu, hingga aku tersadar saat prioritas bisa saja
berubah sewaktu-waktu, sungguh rasional. Seharusnya kau juga begitu, saat ada
yang tetap bisa bahagia walau tak dalam satu waktu denganmu, harusnya kau juga bisa
bahagia dengan dirimu sendiri. Wahai perasaan seimbanglah, kau harus selalu bersyukur
dengan apa yang telah DIA berikan untukmu sampai detik ini, tak usahlah
berharap lebih pada yang lain, cukup pada dirimu dan DIA. Jika memang sama-sama
satu rasa, kata tak lengkap tanpamu, kata suatu hari bersama, tak akan dijawab
dengan kenyataan senyuman yang lagi-lagi tak sama. Juga ingatlah hai diri
sendiri sering-seringlah merefleksi, karena tentu saja kesalahan ada padamu,
suruh siapa kau lebih, suruh siapa kau tak seimbang, bisa-bisanya kau tak bahagia, itu suruh siapa?. Seharusnya kau tak
timpang. Sekali lagi belajarlah bersyukur, jika saat ini masih terasa hampa, tak mengapa, nikmatilah, tuntunlah pelan-pelan, kenalkan kembali pada kehangatan, ingatkan kembali jiwamu tak serapuh itu. Air matamu bukan juga simbol lemahmu, mengapa
ia tak habis, ia yang rela menemanimu, ia yang rela ada saat kau butuh kuat, ia yang akan
terus hadir selama kau masih begini.
Walau
tak semua tanya datang bersama jawab, dan tak semua harap terpenuhi, ketika
bicara juga sesulit diam, utarakan utarakan utarakan.
Wahai bunga mimpi dalam
tidurku, jangan terlalu lama bersemayam di kotak hitam putih dan abu-abu, singgahlah sejenak saja, aku
tahu sesungguhnya kau adalah harapan terdalamku yang selama ini terpendam, mari
merubah warna bersama menjadi pelangi, mari kita lukis bersama dalam penerimaan dan kenyataan, sesukamu tak terbatas, aku sangat merindukanmu.


0 komentar:
Posting Komentar