Mei 22, 2017

Memahami Penolakan

Sesaat memori membawaku menapak tilas kebelakang, betapa menikmatinya hidup kala itu. Mungkin karena sudah terbiasa dengan jadwal yang teratur dan semua pekerjaan yang dilakukan sudah pasti akan mendapatkan evaluasi dan rasa penghargaan terhadap diri ini ada. Ya, diri ini tidak menginginkan pujian, tidak juga mengharap di elu-elu kan karena diri ini bukanlah siapa-siapa. Karena diri ini sudah terbiasa dengan saran, kritikan yang jelas harus untuk terus bisa membangun dengan hal-hal yang disukai. Ya, kala itu saat aktifitas terasa mengalir sejuk di sungai yang penuh alunan musik hati. Sehingga diri ini tetap berharga dan layak bahagia.
Tahun demi tahun terlewati dengan banyak momen-momen indah dan menantang. Saat dimana hampir setengah list yang dibuat berhasil tercentang dengan percaya diri. Untuk mencentang list itu pun tak semudah mengukir tanda cek list dengan pena. Tentunya dengan proses yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Aku menseriusinya bukan berarti aku menatap fokus, aku menseriusinya dengan menikmati prosesnya, walau badai menghadang aku tetap senang, aku tetap bahagia menyelesaikan tugas.
Tibalah tahun dimana aku harus bangun dengan mata terbelalak. Dunia baru yang sebelumnya memang sudah aku bayangkan, tapi juga ada banyak kejutan-kejutan yang membuat hati ini khawatir, dan semakin harus menguatkan jiwa. Nyatanya jati diri ini masih kebingungan mencari jiwa yang sesungguhnya.
Penolakan satu persatu datang menghampiri kehidupanku baik via email, via pesan, via perkataan juga gesture juga lewat empat mata. Halus sekali rangkaian katanya namun menyakitkan. Kesempatan memang hanya datang satu kali, ya datang satu kali bagi orang yang sudah berhenti cukup sampai disini, tapi tidak dengan orang yang tahu bagimana caranya untuk bangkit melahirkan kesempatan-kesempatan yang lainnya terus ada.
Saya butuh waktu untuk menelan satu persatu pil pahit, saya butuh proses untuk bisa menerimanya. Saya juga butuh jiwa yang utuh untuk bisa bangkit dari ini. Saya juga butuh membuat harapan baru yang bisa untuk saya perjuangkan lagi. Mengapa ini terasa menyakitkan, karena saya berharap, mengapa saya kecewa karena saya menginginkannya tapi tidak dengan harapan saya.
Hingga akhirnya saya tersadar, cerita cerita saya membuat orang lain jenuh, membuat orang lain merasa saya berubah semakin buruk, membuat orang lain merasa bosan saat berbicara dengan saya, membuat orang lain tidak sepositif biasanya terhadap saya, membuat saya mendapatkan label baru, sebagai sang pengeluh.
Dari sini saya menjadi tahu, mana orang-orang yang benar tulus dengan saya mana orang-orang yang benar benar hanya bermodus saja saat kata dekat melekat. Juga saya menjadi tahu mana orang tetap tulus bertahan dan menrima saya saat hal-hal buruk menimpa saya. Dari sini saya sadar bahwa saya hanya harus lebih berempati lagi terhadap seseorang yang demikian itu. Posisinya yang kini memang normal, akan membuatnya memilah dan memilih dengan siapa dia akan berbicara dan apa yang ingin dibicarakan.
Penolakan-penolakan ini memang harus aku mamah pelan-pelan, aku telan dengan halus. Penolakan ini juga bukan karena saya tidak layak, melainkan mereka yang masih terus ingin mencari dengan yang sesuai, yang mereka inginkan dan butuhkan. Penolakan-penolakan pada kesempatan, orang dan keadaan bukanlah akhir dari harapan-harapan, juga bukan kegagalan yang kau dapat tanpa perjuangan. Penolakan-penolakan ini hadir dengan banyak tujuan, agar saya terus bisa menggali diri, mengasah diri, lebih peka terhadap semua hal, membangun jiwa yang kuat tanpa mengeluh, dan juga memanage diri untuk pandai mencurahkan pikiran dan hati dengan diri tanpa terus melibatkan orang lain yang belum tentu dengan kerelaan hati mau memahami dan mengerti masing-masing diri.

Begitu pula dengan saya, saya juga akan menolak terhadap hal, yang tidak sesuai dengan harapan, keinginan dan kebutuhan saya. Saya juga akan terus mencari, untuk mendapatkan yang sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Dan dari sini aku belajar memahami sudut pandang penolakan, bahwa penolakan bukanlah hal yang membuat diri menjadi hancur, penolakan bukan hal hina, penolakan bukanlah tolak ukur kualitas diri, karena penolakan adalah hal yang wajar dan biasa saja. Dengan memahami penolakan, saya sungguh bersyukur, dan bisa memastikan saya dalam keadaan baik-baik saja.

0 komentar:

Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut