Sesaat memori membawaku
menapak tilas kebelakang, betapa menikmatinya hidup kala itu. Mungkin karena
sudah terbiasa dengan jadwal yang teratur dan semua pekerjaan yang dilakukan
sudah pasti akan mendapatkan evaluasi dan rasa penghargaan terhadap
diri ini ada. Ya, diri ini tidak menginginkan pujian, tidak juga mengharap di
elu-elu kan karena diri ini bukanlah siapa-siapa. Karena diri ini sudah terbiasa dengan saran, kritikan yang jelas
harus untuk terus bisa membangun dengan hal-hal yang disukai. Ya, kala itu saat aktifitas terasa
mengalir sejuk di sungai yang penuh alunan musik hati. Sehingga diri ini tetap berharga dan layak bahagia.
Tahun demi tahun terlewati
dengan banyak momen-momen indah dan menantang. Saat dimana hampir setengah list
yang dibuat berhasil tercentang dengan percaya diri. Untuk mencentang list itu
pun tak semudah mengukir tanda cek list dengan pena. Tentunya dengan proses
yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Aku menseriusinya bukan berarti aku
menatap fokus, aku menseriusinya dengan menikmati prosesnya, walau badai
menghadang aku tetap senang, aku tetap bahagia menyelesaikan tugas.
Tibalah tahun dimana
aku harus bangun dengan mata terbelalak. Dunia baru yang sebelumnya memang
sudah aku bayangkan, tapi juga ada banyak kejutan-kejutan yang membuat hati ini
khawatir, dan semakin harus menguatkan jiwa. Nyatanya jati diri ini masih
kebingungan mencari jiwa yang sesungguhnya.
Penolakan satu persatu
datang menghampiri kehidupanku baik via email, via pesan, via perkataan juga
gesture juga lewat empat mata. Halus sekali rangkaian katanya namun
menyakitkan. Kesempatan memang hanya datang satu kali, ya datang satu kali bagi
orang yang sudah berhenti cukup sampai disini, tapi tidak dengan orang yang
tahu bagimana caranya untuk bangkit melahirkan kesempatan-kesempatan yang
lainnya terus ada.
Saya butuh waktu untuk
menelan satu persatu pil pahit, saya butuh proses untuk bisa menerimanya. Saya
juga butuh jiwa yang utuh untuk bisa bangkit dari ini. Saya juga butuh membuat
harapan baru yang bisa untuk saya perjuangkan lagi. Mengapa ini terasa
menyakitkan, karena saya berharap, mengapa saya kecewa karena saya
menginginkannya tapi tidak dengan harapan saya.
Hingga akhirnya saya
tersadar, cerita cerita saya membuat orang lain jenuh, membuat orang lain
merasa saya berubah semakin buruk, membuat orang lain merasa bosan saat
berbicara dengan saya, membuat orang lain tidak sepositif biasanya terhadap
saya, membuat saya mendapatkan label baru, sebagai sang pengeluh.
Dari sini saya menjadi
tahu, mana orang-orang yang benar tulus dengan saya mana orang-orang yang benar
benar hanya bermodus saja saat kata dekat melekat. Juga saya menjadi tahu mana orang tetap tulus bertahan dan menrima saya saat hal-hal buruk menimpa saya. Dari sini saya sadar bahwa
saya hanya harus lebih berempati lagi terhadap seseorang yang demikian itu.
Posisinya yang kini memang normal, akan membuatnya memilah dan memilih dengan
siapa dia akan berbicara dan apa yang ingin dibicarakan.
Penolakan-penolakan ini memang harus aku mamah pelan-pelan, aku telan dengan
halus. Penolakan ini juga bukan karena saya tidak layak, melainkan mereka yang
masih terus ingin mencari dengan yang sesuai, yang mereka inginkan dan butuhkan.
Penolakan-penolakan pada kesempatan, orang dan keadaan bukanlah akhir dari
harapan-harapan, juga bukan kegagalan yang kau dapat tanpa perjuangan.
Penolakan-penolakan ini hadir dengan banyak tujuan, agar saya terus bisa
menggali diri, mengasah diri, lebih peka terhadap semua hal, membangun jiwa
yang kuat tanpa mengeluh, dan juga memanage diri untuk pandai mencurahkan
pikiran dan hati dengan diri tanpa terus melibatkan orang lain yang belum tentu dengan kerelaan hati mau memahami dan mengerti masing-masing diri.
Begitu pula dengan
saya, saya juga akan menolak terhadap hal, yang tidak sesuai dengan harapan,
keinginan dan kebutuhan saya. Saya juga akan terus mencari, untuk mendapatkan
yang sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Dan dari sini aku belajar memahami
sudut pandang penolakan, bahwa penolakan bukanlah hal yang membuat diri menjadi
hancur, penolakan bukan hal hina, penolakan bukanlah tolak ukur kualitas diri,
karena penolakan adalah hal yang wajar dan biasa saja. Dengan memahami
penolakan, saya sungguh bersyukur, dan bisa memastikan saya dalam keadaan
baik-baik saja.


0 komentar:
Posting Komentar