Semalam saya bersama
diri saya sendiri menyempatkan menghibur diri dengan menonton sebuah film di
EMPIRE XXI, film ini lagi booming
banget dan jadi viral di kancah media
sosial. Ya!!! ketertarikan saya menonton film ini pas pertama kali ditayangkann
traillernya di Net Tv, lanjut saya kepo-in di youtube dan latar belakang ceritanya ini yang membuat saya semakin
penasaran. Film ini bukan Fast and
Furious, KARTINI, apalagi Critical
Eleven .
Ziarah adalah film karya
sineas muda anak bangsa yaitu B. W Purbanegara yang diproduksi di tahun 2016. Buat
para penikmat film komersil agaknya ini kurang menarik hati. Namun buat para
penikmat film-film karya anak bangsa yang tidak mempedulikan siapa aktornya,
produksi PH mana, ataupun siapa sutradanya, film ini sangat layak buat kamu
tonton.
Film ini sebelumnya
pernah menjadi nomine FFI dan tayang di Festival Film Salamindanaw Asian Film
Festival 2016 di Filipina. Dan kini telah ditayangkan perdana di bioskop Indonesia tanggal 18 Mei 2017.
Ziarah adalah sebuah film indie bergenre
drama yang berlatar belakang tahun 1948 saat Agresi Militer Belanda 2,
Yogayakarta diserang Belanda. Bagi saya film ini adalah sebuah representasi
akan cinta, kesetiaan, keyakinan dan kehidupan.
Ya, Mbah Sri adalah sorotan
utama disini, seorang istri dari veteran yang telah lama terpisah dengan
suaminya. Semenjak itu ia menjada hingga usinya kini menginjak 90-an tahun.
Puluhan tahun telah berlalu, suatu hari Mbah Sri bertemu dengan seorang veteran
yang menceritakan napak tilas suaminya. Saat satu persatu teman seperjuangannya
meninggal dunia kala itu dan dimakamkan bersanding dengan suaminya, Mbah Sri
pun memimpikan hal itu terjadi juga padanya.
Berbekal informasi yang
tak lengkap inilah ia berusaha mencari makam suaminya. Di usianya yang sudah
90-an, ia pantang menyerah demi memperjuangkan kerinduan hati terhadap suami
tercintanya. Kala ilham datang setelah sholat subuh, di langit biru seolah ada
yang berseru, memanggil hatinya untuk menemukan arah makam suaminya, Prawiro
yang meninggal saat Agresi Militer Belanda 2 tahun 1948. Tubuhnya yang renta,
tak kan menjadi alasannya untuk menyerah mencari arah. Dalam perjalanan
pencarian makam suaminya, ia banyak dibingungkan dengan banyak informasi yang
ia dapatkan. Sempat ia bertanya dan hampir saja hatinya lega karena Muktilaya
yang disebut-sebut sebagai tempat peristirahatan terakhir suaminya, namun apa
yang terjadi, seorang yang mengaku anak Ki Husodo sengaja memberikan informasi
salah kepada Mbah Sri, raut muka kecewanya tak bisa ditutupi, ia sungguh
kelelahan, namun tidak dengan jiwanya.
Keinginan hatinya hanya
cukup satu, ingin dimakamkan tepat berada disamping makam suaminya nanti. Kita
berasal dari tanah dan akan kembali tanah, tapi saat ia menemukan informasi
bahwa makan para veteran sudah lenyap menyatu tenggelam bersama waduk, dalam
benaknya berkata, jika tidak kembali ke tanah bolehkah, bagaimana jika kembali
menyatu bersama air?.
Lalu, bertemulah ia
dengan sesepuh yang dengan rela hati memberikan pencerahan melalui pusaka
peninggalan Prawiro yang sejodoh masih disimpan oleh Mbah Sri. Disinilah
keteguhan hati Mbah Sri diuji, dimana saat orang-orang simpang siur memberikan
informasi, Mbah Sri kini mengikuti kata hatinya yang menunjukkan dimana makam
suaminya berada. Dalam film ini kita tak hanya di ajak memutar mesin waktu
puluhan tahun lalu, tapi kita diajak berimajinasi, membebaskan diri untuk
memaknai adegan demi adegan cerita ini. Sungguh sajian yang menyejukkan
imajinasi kita. Mbah Sri yang berhasil mengaduk-aduk perasaan, membuat batin
berkaca-kaca, ketika ia harus menerima kenyataan dari hasil perjalanannya.
Menemukan makam suaminya yang bertuliskan Pawiro Husodo tepat bersanding dengan
makam Sutarmi Pawiro Husodo. Di akhiri pula dengan pembuatan sketsa rumah masa
depan berukuran 2x1 yang dilakukan oleh anak Ki Husodo, dua petak sketsa berdampingan
sudah direncanakan. Untuk Mbah Sri mungkin, atau untuk Mbah Sri dengan siapa?.
Ya alur ceritanya sarat akan makna, kita akan diajak bebas berkelana dalam
ruang imajinasi kita. Sebebas-bebasnya. Perjalanan hati, kehidupan, iman, dan
keyakinan, yang sekaligus mengungkap tabir tragedi kala itu perjuangan bangsa
ini.


0 komentar:
Posting Komentar