Mei 23, 2017

First Time Alone with My Self

Semalam saya bersama diri saya sendiri menyempatkan menghibur diri dengan menonton sebuah film di EMPIRE XXI, film ini lagi booming banget dan jadi viral di kancah media sosial. Ya!!! ketertarikan saya menonton film ini pas pertama kali ditayangkann traillernya di Net Tv, lanjut saya kepo-in di youtube dan latar belakang ceritanya ini yang membuat saya semakin penasaran. Film ini bukan Fast and Furious, KARTINI, apalagi Critical Eleven .
Ziarah adalah film karya sineas muda anak bangsa yaitu B. W Purbanegara yang diproduksi di tahun 2016. Buat para penikmat film komersil agaknya ini kurang menarik hati. Namun buat para penikmat film-film karya anak bangsa yang tidak mempedulikan siapa aktornya, produksi PH mana, ataupun siapa sutradanya, film ini sangat layak buat kamu tonton.
Film ini sebelumnya pernah menjadi nomine FFI dan tayang di Festival Film Salamindanaw Asian Film Festival 2016 di Filipina. Dan kini telah ditayangkan perdana  di bioskop Indonesia tanggal 18 Mei 2017. Ziarah adalah sebuah film indie bergenre drama yang berlatar belakang tahun 1948 saat Agresi Militer Belanda 2, Yogayakarta diserang Belanda. Bagi saya film ini adalah sebuah representasi akan cinta, kesetiaan, keyakinan dan kehidupan.
Ya, Mbah Sri adalah sorotan utama disini, seorang istri dari veteran yang telah lama terpisah dengan suaminya. Semenjak itu ia menjada hingga usinya kini menginjak 90-an tahun. Puluhan tahun telah berlalu, suatu hari Mbah Sri bertemu dengan seorang veteran yang menceritakan napak tilas suaminya. Saat satu persatu teman seperjuangannya meninggal dunia kala itu dan dimakamkan bersanding dengan suaminya, Mbah Sri pun memimpikan hal itu terjadi juga padanya.
Berbekal informasi yang tak lengkap inilah ia berusaha mencari makam suaminya. Di usianya yang sudah 90-an, ia pantang menyerah demi memperjuangkan kerinduan hati terhadap suami tercintanya. Kala ilham datang setelah sholat subuh, di langit biru seolah ada yang berseru, memanggil hatinya untuk menemukan arah makam suaminya, Prawiro yang meninggal saat Agresi Militer Belanda 2 tahun 1948. Tubuhnya yang renta, tak kan menjadi alasannya untuk menyerah mencari arah. Dalam perjalanan pencarian makam suaminya, ia banyak dibingungkan dengan banyak informasi yang ia dapatkan. Sempat ia bertanya dan hampir saja hatinya lega karena Muktilaya yang disebut-sebut sebagai tempat peristirahatan terakhir suaminya, namun apa yang terjadi, seorang yang mengaku anak Ki Husodo sengaja memberikan informasi salah kepada Mbah Sri, raut muka kecewanya tak bisa ditutupi, ia sungguh kelelahan, namun tidak dengan jiwanya.
Keinginan hatinya hanya cukup satu, ingin dimakamkan tepat berada disamping makam suaminya nanti. Kita berasal dari tanah dan akan kembali tanah, tapi saat ia menemukan informasi bahwa makan para veteran sudah lenyap menyatu tenggelam bersama waduk, dalam benaknya berkata, jika tidak kembali ke tanah bolehkah, bagaimana jika kembali menyatu bersama air?.
Lalu, bertemulah ia dengan sesepuh yang dengan rela hati memberikan pencerahan melalui pusaka peninggalan Prawiro yang sejodoh masih disimpan oleh Mbah Sri. Disinilah keteguhan hati Mbah Sri diuji, dimana saat orang-orang simpang siur memberikan informasi, Mbah Sri kini mengikuti kata hatinya yang menunjukkan dimana makam suaminya berada. Dalam film ini kita tak hanya di ajak memutar mesin waktu puluhan tahun lalu, tapi kita diajak berimajinasi, membebaskan diri untuk memaknai adegan demi adegan cerita ini. Sungguh sajian yang menyejukkan imajinasi kita. Mbah Sri yang berhasil mengaduk-aduk perasaan, membuat batin berkaca-kaca, ketika ia harus menerima kenyataan dari hasil perjalanannya. Menemukan makam suaminya yang bertuliskan Pawiro Husodo tepat bersanding dengan makam Sutarmi Pawiro Husodo. Di akhiri pula dengan pembuatan sketsa rumah masa depan berukuran 2x1 yang dilakukan oleh anak Ki Husodo, dua petak sketsa berdampingan sudah direncanakan. Untuk Mbah Sri mungkin, atau untuk Mbah Sri dengan siapa?. Ya alur ceritanya sarat akan makna, kita akan diajak bebas berkelana dalam ruang imajinasi kita. Sebebas-bebasnya. Perjalanan hati, kehidupan, iman, dan keyakinan, yang sekaligus mengungkap tabir tragedi kala itu perjuangan bangsa ini.

0 komentar:

Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut