Di kota yang sudah terlahir istimewa, 10 Juli 2017
Pada pagi hari yang berawan,
seperti biasa ku telusuri jalanan kota yang telah terlahir istimewa. Meter demi
kilometer aspal terlewati, dan pikiran demi pikiran juga telah melayang jauh
kemana-mana menyebrang jalanan lalu lintas. Ditengah-tengah riuhnya klakson
mobil dan motor pagi hari memburu waktu, saling bersaut-saut adu keras, terlihat
ibu penjaja produk jurnalistik kota dengan senyum tulusnya menawarkan dengan
sabar pada pengendara yang berhenti di lampu merah di sebrang jalan sebelah
kanan, mengubah isakan tangis menjadi lebih menggugu tertutup slayer dan helm
butut.
Merasakan betapa ruginya dipagi hari yang telah belasan menit lalu dimulai
dengan isakan yang tak berarti. Merasakan betapa tidak bersyukurnya diri dengan
apa yang selama ini telah menjadi keputusan yang diambil sendiri, merasa tak
bisa menepati keputusan dengan baik, merasa lelah dengan konsekuensi pahit yang
dari awal akan tetap dilakukan walau badai menghadang demi sebuah pengorbanan.
Tak pantas juga rasanya ini disebut pengorbanan, tak pantas juga rasanya ini
disebut keputusan yang luar biasa. Coba lihatlah ulang kembali ketulusan ibu
tadi, dia bekerja dengan ketulusan, penuh harapan positif terbukti dengan
senyuman ikhlasnya. Dan coba lihat diri sendiri, selalu punya alasan untuk
terus menggugu meratapi seolah sedang terjebak pada pilihan yang salah.
Kedipan zipping lampu hijau,
kembali mengadu pedal gas berburu kecepatan, tak kalah juga dengan minibus
entah jalur berapa semangat berburu penumpang setianya, mengagetkan rentetan
tiga sepeda motor yang ada dibelakang nya. Saat sigap menggenggam rem lalu
pyaarr !!!! seketika lega, bersyukur tombol “pause” dari Nya selalu ada di saat
yang tepat. Saat itulah hati mendadak ringan....
Terimakasih Ya Rabb !!!
Terimakasih Ya Rabb !!!


0 komentar:
Posting Komentar