Entah mengapa untuk hal
yang satu ini, aku terlalu berhati-hati untuk tidak menargetkannya dalam
hitungan waktu. Memang benar juga kata orang-orang yang memiliki prinsip hidup
dibawa enjoy aja, ngalir aja, lakukan
aja, nikmatin aja yang ada didepanmu sekarang. Dan untuk urusan hati juga
begitu, nikmati saja dulu apa yang ada didepanmu.
Pepatah mengatakan Jodoh
ditangan Tuhan, dan saya meyakini betul akan hal ini, sama juga saya
dengan meyakininya untuk terus diperjuangkan, agar kelak Tuhan
memperkenankannya bergandengan di tangan kita.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Aku adalah perempuan yang biasa-biasa saja. Tak berupa ayu nan
mempesona. Jika yang kau cari adalah yang cantik indah menawan parasnya, itu
jelas bukan aku. Jika yang kau cari adalah yang lihai memacak ayu berpoles make up mahal, juga jelas bukan aku
orangnya. Aku hanyalah perempuan yang biasa saja, yang hanya bisa tampil apa
adanya aku, yang hanya bisa merawat dan menjaga apa yang Tuhan berikan padaku
dengan apa adanya bukan dengan perawatan yang serba ber-merk lagi mahal.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Aku bukanlah perempuan yang berpenampilan fashionable ala wanita karir, aku juga bukanlah perempuan yang
setiap hari menjaga wajah dengan make up
tebal, bukan juga perempuan-perempuan yang eksis berkelana di media sosial,
bukan juga perempuan yang hobi traveling
tiap weekend tiba, bukan juga pelanggan kedai mahal dan terkenal dikalangan
anak muda, apalagi yang fasih menyebut cafe-cafe
hits ala anak kota, apalagi fasih menyebut makanan-makan western mancanegara, apalagi fasih menghafal lagu artis mancanegara.
Jika yang kau cari yang demikian itu, jelas bukanlah aku. Aku hanyalah
perempuan biasa saja, yang jauh dari kata glamour,
hits, eksis, apalagi rajin melapor lokasi terbaruku saat ini di media sosial. Jika
aku tak demikian, bukan berarti aku tak bisa bergaul, bukan juga berarti aku
tak UpToDate, mungkin karena selera
bergaulku tidaklah sama dengan lainnya. Tapi jika yang kau inginkan yang
demikian, jelas bukan aku orangnya.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Aku bukanlah perempuan yang pandai ber-selfie didepan kamera, juga bukan perempuan yang luwes berekspresi
kala cahaya lensa sengaja ingin menangkap gaya, juga bukan perempuan yang pede menjadi
pusat perhatian orang banyak. Jika yang demikian yang kau cari dan inginkan,
jelas itu bukan aku orangnya. Jika aku tak demikian, itu bukan berarti aku yang
menutup diri, bukan pula berarti aku tak mempunyai kepercayaan diri. Karena aku
memang tak berselera dengan hal yang demikian itu, aku hanyalah perempuan biasa
saja, yang biasa berekspresi dibelakang layar, tidak untuk ajang pertontonan
orang banyak. Bagiku melindungi diri dan menjaga diri dari komentar
tangan-tangan di media sosial ataupun di alam nyata atas tindakan sendiri jauh
lebih penting, daripada sengaja berpolah demikian. Namun jika yang kau cari
yang demikian itu, jelas bukanlah aku orangnya.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Jika kau bertanya, dari kalangan mana kau berasal? Atau apakah kamu ada
keturunan kalangan A, B, C dan kalangan-kalangan lain yang setara dengan darah
biru lainnya. Mohon maaf, dengan penuh syukur dan bahagia kan kutakan darah
yang mengalir dalam tubuhku saat ini adalah darah merah dengan kadar hemoglobin
normal, yang siap di donorkan bagi yang membutuhkan. Aku hanya berasal dari
keluarga yang biasa-biasa saja. Tak ada darah biru, bangsawan maupun turunan
ningrat. Namun jika yang kau cari yang demikian, jelas bukan aku orangnya. Aku hanya berasal dari keluarga yang
sederhana yang beruntung di lahirkan untuk hidup bersama dalam kesederhanaan,
yang dididik layaknya pribumi lainnya, yang tak memiliki warisan harta
berlimpah ruah. Orang tuaku hanya mewarisi agama, pendidikan dan norma-norma
untuk bekal selanjutnya.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Aku hanyalah perempuan yang memiliki selera biasa saja, aku bukanlah
pengoleksi tas branded, baju bermerk mahal, make-up endorse artist, juga bukan
penikmat sepatu kaca, apalagi gaun ala-ala cinderella. Aku juga bukanlah
perempuan yang pandai menge-mix and match baju saat keluar rumah, juga bukan
perempuan yang pandai memilih parfum aroma Italia, apalagi hoby mengoleksi
permata. Jika aku tak demikian, bukan berarti aku tak memiliki selera berbusana
atau bersolek, aku punya selera namun yang tak demikian itu. Jika aku tak
mengenakan pakaian dan fashion dengan standar brand yang demikian, itu bukan
berarti aku tak peduli dengan penampilan.
Ya aku tahu, fashion
adalah salah satu cara kita mengkomunikasikan diri kita kepada khalayak banyak,
juga sebagai salah satu media untuk personal branding. Dan aku juga akan
memilih cara berkomunikasi dengan caraku sendiri, tapi tidak dengan yang demikian. Aku hanyalah perempuan biasa,
yang bagiku menutup aurat adalah prioritas utama, karena bagiku kecantikan
perempuan tak dinilai dari se-fashionable apa yang ia kenakan, seberapa mahal
dan se-branded apa merk yang ia beli. Bukan, bukan itu,
bagiku perhiasan perempuan bukan kalung permata atau gelang berlian yang
dikenakan, melainkan yang tak dapat dibeli, tak juga dijual di pasaran, juga
tak dapat dinikmati secara massa. Bukan hal hal duniawi yang demikian, justru
lebih dari itu, dan tak akan ditemukan di olshop manapun. Jika yang demikian
yang kau cari, jelas bukan aku orangnya.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Aku hanyalah perempuan biasa, yang sedang berusaha bersolek didepan
cermin kehidupan, yang hanya ingin berusaha membenahi sikap, tutur dan perilaku
di hadapanNya. Aku hanyalah perempuan biasa yang keberadaanku mungkin sulit kau
temui dikeramaian, yang keberadaan fisikku juga tak kan sering kau temui di media
social. Bagiku bergaul tak melulu soal cafe dikelilingi music mendayu, tak
melulu soal berselfie dengan bunga-bunga, tak melulu soal bergaya dengan tas
branded, berdiri diatas heels mahal, atau berpose lenggak lenggok wajah miring
depan kamera dekelilingi makanan dan minuman ala mancanegara.
Lagi-lagi aku percaya
dengan salah satu firmanNya bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita.
Karenanya untuk memperjuangkanmu yang kuingin tak hanya menemaniku kala di
dunia saja, aku harus mempelajari lebih tentangNya, tentang bagaimana cara
untuk terus memperbaiki diri, tentang bagaimana peran adam dan hawa. Agar kelak
aku bisa menjadi perhiasaanmu yang abadi yang cantik dimata hatimu bukan karena
make up, bukan karena gemerlap pakaian fisik yang kukenakan, bukan karena tas
mahal yang aku tenteng, bukan karena permata yang kau lihat, juga bukan sepatu
kaca yang membuatku berdiri.
Yang kuinginkan adalah
menjadi cantik dimata hatimu satu-satunya karenaNya, akhlak sebagai pakaian
ruhaninya, iman dan tuntunanNya sebagai pegangannya, kebeningan hati dan
ketulusan adalah permata hatinya dan keyakinan diri untuk berada dijalanNya
adalah pijakannya tempatku untuk berdiri teguh dengan iman. Aku tahu untuk
menggapai semuanya tak semudah itu, maka aku terus memperjuangkannya. Agar
kelak kita dipertemukan untuk saling membahagiakan tidak hanya didunia saja.
Wahai calon penyempurna
agamaku. Jika saat ini kita belum dipersatukan, itu karena Dia tahu segalanya
yang tepat untuk kita. Dia berikan waktu dan kesempatan pada kita, untuk
masing-masing membenahi diri, untuk masing-masing saling mempersiapkan diri,
untuk masing-masing saling mengenali kekurangan-kekurangan diri. Agar kelak
jika sudah waktunya kita bisa saling melengkapi.
Wahai calon penyempurna
agamaku, kala nanti kita dipertemukan, aku yakin kita ada karena memang untuk
saling bersama. Aku yakin kita bersama untuk terus saling membutuhkan dan
saling menginginkan satu sama lain, untuk menapaki satu persatu tangga
kehidupan menuju jannahNya.
Dan jika suatu hari
pertemuan kita menimbulkan penyesalan, itu adalah penyelasan yang terjadi
karena kita menyesal mengapa kita tak dipertemukan sejak lama, mengapa kita tak
dipersatukan sejak dahulu kala, mengapa kita tak bersama-sama membangun diri
dalam satu tangga sejak lama, sejak awal kita berjumpa. Mengapa kita tak saling membahagiakan berdua sejak
dahulu kala saat kita sama-sama memikirkan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan
bersama. Cause I Know Two Will be Better if Together, its Perfect.
Wahai calon penyempurna
agamaku, semoga kita memang sedang sama-sama menyemogakan dan memperjuangkan
hal yang sama. Dan semoga yang ditiap tengadah tanganku, pada segenap
kerendahan hati padaNya, yang kusebut namanu adalah sama dengan yang telah Dia
tuliskan di Lauhul Mahfudz. Juga pun ketika nantinya kita dipersatukan bukan
karena semata-mata saling melihat kelebihan, namun untuk saling melengkapi apa
yang tidak ada pada masing-masing diri kita. Dan jika nantinya kita
dipersatukan bukan karena pemikiran kita yang sama, hobi dan kesukaan yang
sama, latar belakang yang sama, juga bukan karena prinsip yang sama. Aku yakin
itu melainkan karena keyakinan kita yang sama. Keyakinan yang sama-sama untuk
saling memperjuangkan agar bisa bersama. Keyakinan kita yang sama untuk
sama-sama bersedia untuk selalu ada satu-sama lain, bersedia untuk selalu ada
dalam penerimaan diri kita satu sama lain. Wahai calon penyempurna agamaku, aku
yakin jika diri ini sedang berusaha bermuhasabah dan mengevaluasi diri juga sedang berbenah diri,
aku yakin kamu juga sedang sama-sama berusaha dan berjuang untuk itu, untuk aku
kamu dan kita nantinya.
Jika saat ini kita
masih berada pada jarak dan waktu yang berbeda, tak mengapa, semoga kita tetap
pada satu keyakinan hati yang sama untuk menuju tujuan yang sama. Pada akhirnya
diwaktu yang tepat Dia yang akan mempesatukan kita dan tepat pada waktunya
dengan segala kehendakNya pada hakikat yang abadi. Dan kupastikan sedianya kini
aku sedang berjuang untuk itu dalam penantian yang indah.

