Mei 27, 2017

Untuk yang Kuperjuangkan dengan Penuh Keyakinan

Entah mengapa untuk hal yang satu ini, aku terlalu berhati-hati untuk tidak menargetkannya dalam hitungan waktu. Memang benar juga kata orang-orang yang memiliki prinsip hidup dibawa enjoy aja, ngalir aja, lakukan aja, nikmatin aja yang ada didepanmu sekarang. Dan untuk urusan hati juga begitu, nikmati saja dulu apa yang ada didepanmu.
Pepatah mengatakan Jodoh ditangan Tuhan, dan saya meyakini betul akan hal ini, sama juga saya dengan meyakininya untuk terus diperjuangkan, agar kelak Tuhan memperkenankannya bergandengan di tangan kita.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku adalah perempuan yang biasa-biasa saja. Tak berupa ayu nan mempesona. Jika yang kau cari adalah yang cantik indah menawan parasnya, itu jelas bukan aku. Jika yang kau cari adalah yang lihai memacak ayu berpoles make up mahal, juga jelas bukan aku orangnya. Aku hanyalah perempuan yang biasa saja, yang hanya bisa tampil apa adanya aku, yang hanya bisa merawat dan menjaga apa yang Tuhan berikan padaku dengan apa adanya bukan dengan perawatan yang serba ber-merk lagi mahal.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku bukanlah perempuan yang berpenampilan fashionable ala wanita karir, aku juga bukanlah perempuan yang setiap hari menjaga wajah dengan make up tebal, bukan juga perempuan-perempuan yang eksis berkelana di media sosial, bukan juga perempuan yang hobi traveling tiap weekend tiba, bukan juga pelanggan kedai mahal dan terkenal dikalangan anak muda, apalagi yang fasih menyebut cafe-cafe hits ala anak kota, apalagi fasih menyebut makanan-makan western mancanegara, apalagi fasih menghafal lagu artis mancanegara. Jika yang kau cari yang demikian itu, jelas bukanlah aku. Aku hanyalah perempuan biasa saja, yang jauh dari kata glamour, hits, eksis, apalagi rajin melapor lokasi terbaruku saat ini di media sosial. Jika aku tak demikian, bukan berarti aku tak bisa bergaul, bukan juga berarti aku tak UpToDate, mungkin karena selera bergaulku tidaklah sama dengan lainnya. Tapi jika yang kau inginkan yang demikian, jelas bukan aku orangnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku bukanlah perempuan yang pandai ber-selfie didepan kamera, juga bukan perempuan yang luwes berekspresi kala cahaya lensa sengaja ingin menangkap gaya, juga bukan perempuan yang pede menjadi pusat perhatian orang banyak. Jika yang demikian yang kau cari dan inginkan, jelas itu bukan aku orangnya. Jika aku tak demikian, itu bukan berarti aku yang menutup diri, bukan pula berarti aku tak mempunyai kepercayaan diri. Karena aku memang tak berselera dengan hal yang demikian itu, aku hanyalah perempuan biasa saja, yang biasa berekspresi dibelakang layar, tidak untuk ajang pertontonan orang banyak. Bagiku melindungi diri dan menjaga diri dari komentar tangan-tangan di media sosial ataupun di alam nyata atas tindakan sendiri jauh lebih penting, daripada sengaja berpolah demikian. Namun jika yang kau cari yang demikian itu, jelas bukanlah aku orangnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Jika kau bertanya, dari kalangan mana kau berasal? Atau apakah kamu ada keturunan kalangan A, B, C dan kalangan-kalangan lain yang setara dengan darah biru lainnya. Mohon maaf, dengan penuh syukur dan bahagia kan kutakan darah yang mengalir dalam tubuhku saat ini adalah darah merah dengan kadar hemoglobin normal, yang siap di donorkan bagi yang membutuhkan. Aku hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tak ada darah biru, bangsawan maupun turunan ningrat. Namun jika yang kau cari yang demikian, jelas bukan aku orangnya.  Aku hanya berasal dari keluarga yang sederhana yang beruntung di lahirkan untuk hidup bersama dalam kesederhanaan, yang dididik layaknya pribumi lainnya, yang tak memiliki warisan harta berlimpah ruah. Orang tuaku hanya mewarisi agama, pendidikan dan norma-norma untuk bekal selanjutnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku hanyalah perempuan yang memiliki selera biasa saja, aku bukanlah pengoleksi tas branded, baju bermerk mahal, make-up endorse artist, juga bukan penikmat sepatu kaca, apalagi gaun ala-ala cinderella. Aku juga bukanlah perempuan yang pandai menge-mix and match baju saat keluar rumah, juga bukan perempuan yang pandai memilih parfum aroma Italia, apalagi hoby mengoleksi permata. Jika aku tak demikian, bukan berarti aku tak memiliki selera berbusana atau bersolek, aku punya selera namun yang tak demikian itu. Jika aku tak mengenakan pakaian dan fashion dengan standar brand yang demikian, itu bukan berarti aku tak peduli dengan penampilan.

Ya aku tahu, fashion adalah salah satu cara kita mengkomunikasikan diri kita kepada khalayak banyak, juga sebagai salah satu media untuk personal branding. Dan aku juga akan memilih cara berkomunikasi dengan caraku sendiri, tapi tidak dengan yang demikian. Aku hanyalah perempuan biasa, yang bagiku menutup aurat adalah prioritas utama, karena bagiku kecantikan perempuan tak dinilai dari se-fashionable apa yang ia kenakan, seberapa mahal dan se-branded apa merk yang ia beli. Bukan, bukan itu, bagiku perhiasan perempuan bukan kalung permata atau gelang berlian yang dikenakan, melainkan yang tak dapat dibeli, tak juga dijual di pasaran, juga tak dapat dinikmati secara massa. Bukan hal hal duniawi yang demikian, justru lebih dari itu, dan tak akan ditemukan di olshop manapun. Jika yang demikian yang kau cari, jelas bukan aku orangnya.

Wahai calon penyempurna agamaku. Aku hanyalah perempuan biasa, yang sedang berusaha bersolek didepan cermin kehidupan, yang hanya ingin berusaha membenahi sikap, tutur dan perilaku di hadapanNya. Aku hanyalah perempuan biasa yang keberadaanku mungkin sulit kau temui dikeramaian, yang keberadaan fisikku juga tak kan sering kau temui di media social. Bagiku bergaul tak melulu soal cafe dikelilingi music mendayu, tak melulu soal berselfie dengan bunga-bunga, tak melulu soal bergaya dengan tas branded, berdiri diatas heels mahal, atau berpose lenggak lenggok wajah miring depan kamera dekelilingi makanan dan minuman ala mancanegara.

Lagi-lagi aku percaya dengan salah satu firmanNya bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita. Karenanya untuk memperjuangkanmu yang kuingin tak hanya menemaniku kala di dunia saja, aku harus mempelajari lebih tentangNya, tentang bagaimana cara untuk terus memperbaiki diri, tentang bagaimana peran adam dan hawa. Agar kelak aku bisa menjadi perhiasaanmu yang abadi yang cantik dimata hatimu bukan karena make up, bukan karena gemerlap pakaian fisik yang kukenakan, bukan karena tas mahal yang aku tenteng, bukan karena permata yang kau lihat, juga bukan sepatu kaca yang membuatku berdiri.

Yang kuinginkan adalah menjadi cantik dimata hatimu satu-satunya karenaNya, akhlak sebagai pakaian ruhaninya, iman dan tuntunanNya sebagai pegangannya, kebeningan hati dan ketulusan adalah permata hatinya dan keyakinan diri untuk berada dijalanNya adalah pijakannya tempatku untuk berdiri teguh dengan iman. Aku tahu untuk menggapai semuanya tak semudah itu, maka aku terus memperjuangkannya. Agar kelak kita dipertemukan untuk saling membahagiakan tidak hanya didunia saja.

Wahai calon penyempurna agamaku. Jika saat ini kita belum dipersatukan, itu karena Dia tahu segalanya yang tepat untuk kita. Dia berikan waktu dan kesempatan pada kita, untuk masing-masing membenahi diri, untuk masing-masing saling mempersiapkan diri, untuk masing-masing saling mengenali kekurangan-kekurangan diri. Agar kelak jika sudah waktunya kita bisa saling melengkapi.
Wahai calon penyempurna agamaku, kala nanti kita dipertemukan, aku yakin kita ada karena memang untuk saling bersama. Aku yakin kita bersama untuk terus saling membutuhkan dan saling menginginkan satu sama lain, untuk menapaki satu persatu tangga kehidupan menuju jannahNya.

Dan jika suatu hari pertemuan kita menimbulkan penyesalan, itu adalah penyelasan yang terjadi karena kita menyesal mengapa kita tak dipertemukan sejak lama, mengapa kita tak dipersatukan sejak dahulu kala, mengapa kita tak bersama-sama membangun diri dalam satu tangga sejak lama, sejak awal kita berjumpa. Mengapa kita tak saling membahagiakan berdua sejak dahulu kala saat kita sama-sama memikirkan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan bersama. Cause I Know Two Will be Better if Together, its Perfect.

Wahai calon penyempurna agamaku, semoga kita memang sedang sama-sama menyemogakan dan memperjuangkan hal yang sama. Dan semoga yang ditiap tengadah tanganku, pada segenap kerendahan hati padaNya, yang kusebut namanu adalah sama dengan yang telah Dia tuliskan di Lauhul Mahfudz. Juga pun ketika nantinya kita dipersatukan bukan karena semata-mata saling melihat kelebihan, namun untuk saling melengkapi apa yang tidak ada pada masing-masing diri kita. Dan jika nantinya kita dipersatukan bukan karena pemikiran kita yang sama, hobi dan kesukaan yang sama, latar belakang yang sama, juga bukan karena prinsip yang sama. Aku yakin itu melainkan karena keyakinan kita yang sama. Keyakinan yang sama-sama untuk saling memperjuangkan agar bisa bersama. Keyakinan kita yang sama untuk sama-sama bersedia untuk selalu ada satu-sama lain, bersedia untuk selalu ada dalam penerimaan diri kita satu sama lain. Wahai calon penyempurna agamaku, aku yakin jika diri ini sedang berusaha bermuhasabah dan  mengevaluasi diri juga sedang berbenah diri, aku yakin kamu juga sedang sama-sama berusaha dan berjuang untuk itu, untuk aku kamu dan kita nantinya.

Jika saat ini kita masih berada pada jarak dan waktu yang berbeda, tak mengapa, semoga kita tetap pada satu keyakinan hati yang sama untuk menuju tujuan yang sama. Pada akhirnya diwaktu yang tepat Dia yang akan mempesatukan kita dan tepat pada waktunya dengan segala kehendakNya pada hakikat yang abadi. Dan kupastikan sedianya kini aku sedang berjuang untuk itu dalam penantian yang indah.

Mei 25, 2017

Saat Ini, Aku Sedang Ingin Menantikan Mimpi-Mimpi untuk Hadir dalam Waktu yang Sangat Lama

-Aku dan mimpi-mimpiku yang indah menyatu bertemu pada sekotak hitam, putih dan abu-abu. Lalu hancur, saat aku tersadar, kembali ke kenyataan.-
Kuawali ini dengan kisah dalam sekotak hitam, putih dan abu-abu.
Maafkan aku wahai diriku, yang saat ini masih berusaha keras untuk menghilangkan sosok kecewa. Baru terungkap perasaan yang sungguh mengganggu di pikiran ini, menggulat erat, mengerak hingga merapuhkan hati, yang seharusnya kuat menangkap sinyal-sinyal dan cahaya yang terang.

Kurasa hari demi hari berjalan amat lama, berjalan begitu sangat membosankan, terasa pahit dan menderita. Jangan sekali-kali abaikan perasaan, dan kata hati. Jangan sekali-kali mengabaikan bahasa hati, karena jiwamu yang merasakannya. Biarlah yang menganggap remeh, biarlah yang habis kesabarannya melihat kondisimu, biarlah. Dia adalah penonton yang memang memiliki hak berkomentar dengan sikap dan kata-kata sesuka hatinya. Dan kau juga sungguh memiliki kuasa penuh atas hak jawab, bukan dengan mulutmu, kau hanya cukup tidak mengatakan apa-apa. Karena kau hanya perlu lebih menyatu dengan dirimu sendiri.

Saat bunga tidur jauh lebih indah dari kenyataan, rasanya aku sangat menginginkan kehadiranmu dalam tidurku untuk waktu yang sangat lama, biar waktuku tak terlalu lama menjalani kenyataan yang buruk. Saat kau dikecam sebagai seorang yang labil, saat kau dikecam sebagai seorang yang tidak seperti dulu lagi, saat kau dikecam sebagai seorang yang lemah, saat kau dikecam sebagai seorang yang tak becus menjadi tuan rumah diri sendiri, biarlah. Memang kukatakan kau tak mengalami apa yang ku rasakan, hanya saja kau lebih dulu berhasil melewati masa lalumu.

Kiranya aku tak berlebihan, menginginkan untuk penerimaan, kiranya bagiku itu naluri perasaan, ingin mendapatkan timbal balik yang sama-sama tulus, dengan tidak memaksakan. Tapi tidak dengan sudut pandang yang lain, nyatanya memang tak semua yang berdasar rasa pada akhirnya bersudut pandang sama. Tapi biarlah, kenyataan tidak akan mungkin begitu, yang nyatanya pikiranku selalu seindah suwarga. Cukupkan untuk ini, karena aku tersadar kala kubuka mata, kenyataan yang sama masih kujalani.

Aku salah dalam berharap, dan aku kurang tepat dalam menaruh harapan. Saat kuharap ada yang akan selalu ada saat-saat dimana hanya ingin didengar, saat kuharap akan ada yang selalu bisa sebagai tempatku bersandar keluh kesah, hei itu hanya ada pada kisah sekotak hitam, putih dan abu-abu jika kau tak mengungkapkannya, dan kembali teringat jika ini bukan magic. Apa yang aku lupakan, tak akan sama, dan apa yang selalu membuatku ingat pun tak akan sama. Hingga pada akhirnya aku tahu apa yang membuatku lupa denganMU dan apa yang membuatku terus mengingatMU.

Selama ini, perasaaku yang terlalu besar, hingga aku lupa tak selamanya yang kau cinta akan sama-sama mencinta seperti dirimu, hingga aku ingat kadar logika bisa saja membuat bosan padamu sewaktu-waktu, hingga aku tersadar saat prioritas bisa saja berubah sewaktu-waktu, sungguh rasional. Seharusnya kau juga begitu, saat ada yang tetap bisa bahagia walau tak dalam satu waktu denganmu, harusnya kau juga bisa bahagia dengan dirimu sendiri. Wahai perasaan seimbanglah, kau harus selalu bersyukur dengan apa yang telah DIA berikan untukmu sampai detik ini, tak usahlah berharap lebih pada yang lain, cukup pada dirimu dan DIA. Jika memang sama-sama satu rasa, kata tak lengkap tanpamu, kata suatu hari bersama, tak akan dijawab dengan kenyataan senyuman yang lagi-lagi tak sama. Juga ingatlah hai diri sendiri sering-seringlah merefleksi, karena tentu saja kesalahan ada padamu, suruh siapa kau lebih, suruh siapa kau tak seimbang, bisa-bisanya kau tak bahagia, itu suruh siapa?. Seharusnya kau tak timpang. Sekali lagi belajarlah bersyukur, jika saat ini masih terasa hampa, tak mengapa, nikmatilah, tuntunlah pelan-pelan, kenalkan kembali pada kehangatan, ingatkan kembali jiwamu tak serapuh itu. Air matamu bukan juga simbol lemahmu, mengapa ia tak habis, ia yang rela menemanimu, ia yang rela ada saat kau butuh kuat, ia yang akan terus hadir selama kau masih begini.

Walau tak semua tanya datang bersama jawab, dan tak semua harap terpenuhi, ketika bicara juga sesulit diam, utarakan utarakan utarakan.

Wahai bunga mimpi dalam tidurku, jangan terlalu lama bersemayam di kotak hitam putih dan abu-abu, singgahlah sejenak saja, aku tahu sesungguhnya kau adalah harapan terdalamku yang selama ini terpendam, mari merubah warna bersama menjadi pelangi, mari kita lukis bersama dalam penerimaan dan kenyataan, sesukamu tak terbatas, aku sangat merindukanmu.

Mei 23, 2017

First Time Alone with My Self

Semalam saya bersama diri saya sendiri menyempatkan menghibur diri dengan menonton sebuah film di EMPIRE XXI, film ini lagi booming banget dan jadi viral di kancah media sosial. Ya!!! ketertarikan saya menonton film ini pas pertama kali ditayangkann traillernya di Net Tv, lanjut saya kepo-in di youtube dan latar belakang ceritanya ini yang membuat saya semakin penasaran. Film ini bukan Fast and Furious, KARTINI, apalagi Critical Eleven .
Ziarah adalah film karya sineas muda anak bangsa yaitu B. W Purbanegara yang diproduksi di tahun 2016. Buat para penikmat film komersil agaknya ini kurang menarik hati. Namun buat para penikmat film-film karya anak bangsa yang tidak mempedulikan siapa aktornya, produksi PH mana, ataupun siapa sutradanya, film ini sangat layak buat kamu tonton.
Film ini sebelumnya pernah menjadi nomine FFI dan tayang di Festival Film Salamindanaw Asian Film Festival 2016 di Filipina. Dan kini telah ditayangkan perdana  di bioskop Indonesia tanggal 18 Mei 2017. Ziarah adalah sebuah film indie bergenre drama yang berlatar belakang tahun 1948 saat Agresi Militer Belanda 2, Yogayakarta diserang Belanda. Bagi saya film ini adalah sebuah representasi akan cinta, kesetiaan, keyakinan dan kehidupan.
Ya, Mbah Sri adalah sorotan utama disini, seorang istri dari veteran yang telah lama terpisah dengan suaminya. Semenjak itu ia menjada hingga usinya kini menginjak 90-an tahun. Puluhan tahun telah berlalu, suatu hari Mbah Sri bertemu dengan seorang veteran yang menceritakan napak tilas suaminya. Saat satu persatu teman seperjuangannya meninggal dunia kala itu dan dimakamkan bersanding dengan suaminya, Mbah Sri pun memimpikan hal itu terjadi juga padanya.
Berbekal informasi yang tak lengkap inilah ia berusaha mencari makam suaminya. Di usianya yang sudah 90-an, ia pantang menyerah demi memperjuangkan kerinduan hati terhadap suami tercintanya. Kala ilham datang setelah sholat subuh, di langit biru seolah ada yang berseru, memanggil hatinya untuk menemukan arah makam suaminya, Prawiro yang meninggal saat Agresi Militer Belanda 2 tahun 1948. Tubuhnya yang renta, tak kan menjadi alasannya untuk menyerah mencari arah. Dalam perjalanan pencarian makam suaminya, ia banyak dibingungkan dengan banyak informasi yang ia dapatkan. Sempat ia bertanya dan hampir saja hatinya lega karena Muktilaya yang disebut-sebut sebagai tempat peristirahatan terakhir suaminya, namun apa yang terjadi, seorang yang mengaku anak Ki Husodo sengaja memberikan informasi salah kepada Mbah Sri, raut muka kecewanya tak bisa ditutupi, ia sungguh kelelahan, namun tidak dengan jiwanya.
Keinginan hatinya hanya cukup satu, ingin dimakamkan tepat berada disamping makam suaminya nanti. Kita berasal dari tanah dan akan kembali tanah, tapi saat ia menemukan informasi bahwa makan para veteran sudah lenyap menyatu tenggelam bersama waduk, dalam benaknya berkata, jika tidak kembali ke tanah bolehkah, bagaimana jika kembali menyatu bersama air?.
Lalu, bertemulah ia dengan sesepuh yang dengan rela hati memberikan pencerahan melalui pusaka peninggalan Prawiro yang sejodoh masih disimpan oleh Mbah Sri. Disinilah keteguhan hati Mbah Sri diuji, dimana saat orang-orang simpang siur memberikan informasi, Mbah Sri kini mengikuti kata hatinya yang menunjukkan dimana makam suaminya berada. Dalam film ini kita tak hanya di ajak memutar mesin waktu puluhan tahun lalu, tapi kita diajak berimajinasi, membebaskan diri untuk memaknai adegan demi adegan cerita ini. Sungguh sajian yang menyejukkan imajinasi kita. Mbah Sri yang berhasil mengaduk-aduk perasaan, membuat batin berkaca-kaca, ketika ia harus menerima kenyataan dari hasil perjalanannya. Menemukan makam suaminya yang bertuliskan Pawiro Husodo tepat bersanding dengan makam Sutarmi Pawiro Husodo. Di akhiri pula dengan pembuatan sketsa rumah masa depan berukuran 2x1 yang dilakukan oleh anak Ki Husodo, dua petak sketsa berdampingan sudah direncanakan. Untuk Mbah Sri mungkin, atau untuk Mbah Sri dengan siapa?. Ya alur ceritanya sarat akan makna, kita akan diajak bebas berkelana dalam ruang imajinasi kita. Sebebas-bebasnya. Perjalanan hati, kehidupan, iman, dan keyakinan, yang sekaligus mengungkap tabir tragedi kala itu perjuangan bangsa ini.

Mei 22, 2017

Memahami Penolakan

Sesaat memori membawaku menapak tilas kebelakang, betapa menikmatinya hidup kala itu. Mungkin karena sudah terbiasa dengan jadwal yang teratur dan semua pekerjaan yang dilakukan sudah pasti akan mendapatkan evaluasi dan rasa penghargaan terhadap diri ini ada. Ya, diri ini tidak menginginkan pujian, tidak juga mengharap di elu-elu kan karena diri ini bukanlah siapa-siapa. Karena diri ini sudah terbiasa dengan saran, kritikan yang jelas harus untuk terus bisa membangun dengan hal-hal yang disukai. Ya, kala itu saat aktifitas terasa mengalir sejuk di sungai yang penuh alunan musik hati. Sehingga diri ini tetap berharga dan layak bahagia.
Tahun demi tahun terlewati dengan banyak momen-momen indah dan menantang. Saat dimana hampir setengah list yang dibuat berhasil tercentang dengan percaya diri. Untuk mencentang list itu pun tak semudah mengukir tanda cek list dengan pena. Tentunya dengan proses yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Aku menseriusinya bukan berarti aku menatap fokus, aku menseriusinya dengan menikmati prosesnya, walau badai menghadang aku tetap senang, aku tetap bahagia menyelesaikan tugas.
Tibalah tahun dimana aku harus bangun dengan mata terbelalak. Dunia baru yang sebelumnya memang sudah aku bayangkan, tapi juga ada banyak kejutan-kejutan yang membuat hati ini khawatir, dan semakin harus menguatkan jiwa. Nyatanya jati diri ini masih kebingungan mencari jiwa yang sesungguhnya.
Penolakan satu persatu datang menghampiri kehidupanku baik via email, via pesan, via perkataan juga gesture juga lewat empat mata. Halus sekali rangkaian katanya namun menyakitkan. Kesempatan memang hanya datang satu kali, ya datang satu kali bagi orang yang sudah berhenti cukup sampai disini, tapi tidak dengan orang yang tahu bagimana caranya untuk bangkit melahirkan kesempatan-kesempatan yang lainnya terus ada.
Saya butuh waktu untuk menelan satu persatu pil pahit, saya butuh proses untuk bisa menerimanya. Saya juga butuh jiwa yang utuh untuk bisa bangkit dari ini. Saya juga butuh membuat harapan baru yang bisa untuk saya perjuangkan lagi. Mengapa ini terasa menyakitkan, karena saya berharap, mengapa saya kecewa karena saya menginginkannya tapi tidak dengan harapan saya.
Hingga akhirnya saya tersadar, cerita cerita saya membuat orang lain jenuh, membuat orang lain merasa saya berubah semakin buruk, membuat orang lain merasa bosan saat berbicara dengan saya, membuat orang lain tidak sepositif biasanya terhadap saya, membuat saya mendapatkan label baru, sebagai sang pengeluh.
Dari sini saya menjadi tahu, mana orang-orang yang benar tulus dengan saya mana orang-orang yang benar benar hanya bermodus saja saat kata dekat melekat. Juga saya menjadi tahu mana orang tetap tulus bertahan dan menrima saya saat hal-hal buruk menimpa saya. Dari sini saya sadar bahwa saya hanya harus lebih berempati lagi terhadap seseorang yang demikian itu. Posisinya yang kini memang normal, akan membuatnya memilah dan memilih dengan siapa dia akan berbicara dan apa yang ingin dibicarakan.
Penolakan-penolakan ini memang harus aku mamah pelan-pelan, aku telan dengan halus. Penolakan ini juga bukan karena saya tidak layak, melainkan mereka yang masih terus ingin mencari dengan yang sesuai, yang mereka inginkan dan butuhkan. Penolakan-penolakan pada kesempatan, orang dan keadaan bukanlah akhir dari harapan-harapan, juga bukan kegagalan yang kau dapat tanpa perjuangan. Penolakan-penolakan ini hadir dengan banyak tujuan, agar saya terus bisa menggali diri, mengasah diri, lebih peka terhadap semua hal, membangun jiwa yang kuat tanpa mengeluh, dan juga memanage diri untuk pandai mencurahkan pikiran dan hati dengan diri tanpa terus melibatkan orang lain yang belum tentu dengan kerelaan hati mau memahami dan mengerti masing-masing diri.

Begitu pula dengan saya, saya juga akan menolak terhadap hal, yang tidak sesuai dengan harapan, keinginan dan kebutuhan saya. Saya juga akan terus mencari, untuk mendapatkan yang sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Dan dari sini aku belajar memahami sudut pandang penolakan, bahwa penolakan bukanlah hal yang membuat diri menjadi hancur, penolakan bukan hal hina, penolakan bukanlah tolak ukur kualitas diri, karena penolakan adalah hal yang wajar dan biasa saja. Dengan memahami penolakan, saya sungguh bersyukur, dan bisa memastikan saya dalam keadaan baik-baik saja.

Mei 21, 2017

PERNIKAHAN

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata pernikahan?
Bahagia, indah, menyenangkan, impian, cita-cita, surga, sempurna, so sweet, sakral, abadi, atau deg-degan, takut, seram, persiapan, kebutuhan, keinginan, penting, harus, disegerakan atau yang lainnya??? Silahkan bisa isi sendiri sesuai dengan perasaan, pemikiran dan cara pandang masing-masing ya.
Ya disini saya tidak akan menulis bab tentang pernikahan secara harfiah, ilmiah, dan lainnya. Cuma pengen nulis aja, tentang  PERNIKAHAN yang akhir-akhir ini sering jadi pembicaraan ketika ketemu teman baru, teman dekat, sahabat dekat, orang tua, keluarga, teman yang sudah kenal lama dan baru aja ketemu lagi setelah sekian bulan, sahabat karib bahkan tetangga, juga om tante, pak lik bu lik, menurut pengamatan yang saya alami sendiri beberapa bulan ini. 
Ehh tau gak sih, si A baru aja kemaren nikah, tapi gak sama pacar yang selama ini kita tahu, katanya sama yang lain, yang dulu itu udah udahan. Ehh tau gak sih si B kemaren baru aja nikah, padahal dia kan baru aja putus sama pacarnya, tiga bulan jomblo langsung ada yang ngelamar terus ngajakin nikah, wah bejo banget ya. Ehh tau gak sih si C kemaren juga baru aja nikah sama kenalan saudaranya cuma pake proses ta’aruf  tiga bulan aja langsung jadi, keren ya. Iya si D juga lhoo abis nikah hari kemaren malahan, pacarannya 10 tahun, awet banget yaa sampai nikah, semoga sampe kakek-kakek nenek deh awetnya amin. Lha, lo kapan? Hahahhahahhhaaha ngakak bareng, abis itu sedih. Hahahahhaha
Lanjut ke pertanyaan, KAPAN NIKAH. Teruntuk para pemuda pemudi yang jadi anak rantau, kalau kalian pulang kerumah, dan udah ketahuan kalian udah lulus studi atau udah dapet kerja, tapi masih ada bau bau belum sebar undangan atau digosipin punya pasangan, sedangkan anak tetangga kalian yang seumuran sama kalian udah pada sebar undangan, udah banyak yang tak lajang lagi atau udah ada yang launching baby baru, kalian pasti akan di serbu sama satu pertanyaan, KAPAN NIKAH. Entah gimana ceritanya, yang tadinya obrolannya tentang kerja dimana, kapan pulang, gong nya pasti ke pertanyaan KAPAN NIKAH, hahahhaha kayanya ini memang adatnya orang kampung saya, mungkin di tempat tinggal atau kampung kalian ga sehomogen ini pertanyaannya ya, ya baguslah. Tapi kalau kalian mengalami hal yang saya alami, yuk toss dulu!!! ngakak lagi, hahahhhah
Suatu hari, saya ketemu sama tetangga yang bisa dibilang jarak rumahnya jauhan tapi keluarga kami secara ikatan rasa dekat, halah, hahha jadi tetangga dekat gitu ceritanya. Awalnya ngobrol biasa lumrahnya tetangga yang jarang ketemu, terus ditanyain deh kapan nikah? Sambil nyengir kecut, dan minta doanya mawon nggih budhe (kenyatannya ya mbuh kapan, tapi dalam hati minta doa aja, yang penting dah) jawab saya. Iya kalau udah punya teman dekat yang serius, udah sama-sama punya pegangan, cocok, jangan lama-lama,  tapi jangan grasa-grusu (buru-buru) tapi nek wis wayahe luwih becik disegerakan. Nikah gak harus gebyar-gebyar, hura-hura, yang penting itu akad ijab qobulnya nduk, tapi kalau mau bikin syukuran ya sing penting pantes, juga sesuai kemampuan, tidak perlu mewah, yang penting tamu kopen (terurus). Wis tak dongakke ndang yo nduk, nek ncen wis duwe gandengan. Amiin budhe, jawab saya lagi. Begitulah obrolan singkat dari seorang anak rantau yang sedang balik kampung, bersama tetangga dekatnya.
Hai pernikahan, momentmu adalah dambaan setiap insan yang terlahir di dunia, momentmu adalah fitrah bagi setiap insan, momentmu adalah kebahagiaan seluruh isi jagad raya seluruh isi bumi. Kenapa begitu, nyatanya banyak yang menginginkmu wahai pernikahan. Ketika ijab qobul dilaksanakan, seribu malaikat  mendoakan dan Arsy-Nya bergetar. Dan yang diimpikan oleh insan bumi adalah pernikahan yang hanya satu kali seumur hidup.
Oleh karena itu perlu dipersiapkan secara matang, baik secara fisik maupun mental. Kenapa? karena pernikahan hampir seratus persen menyumbang dalam menentukan kebahagiaan hidup selanjutnya. Ya setelah menikah ada yang hidupnya makin bahagia ada juga yang hidupnya makin menderita. Ada yang rejekinya makin melimpah ada juga yang makin merosot. Ada yang makin makmur, ada juga yang makin terpuruk. Dan eiitss coba apa yang kalian pikirkan ketika melihat pernikahan yang berakhir di kantor pengadilan agama?. Dan janganlah juga ikut-ikutan memandang rendah mereka yang mengakhiri pernikahannya. Setiap manusia mempunyai hak nya untuk bahagia seutuhnya.
Dan ternyata kebahagiaan hidup manusia ada juga yang tidak sejodoh dalam pernikahannya. Mungkin dengan berpisah masing-masing dari mereka justru menemukan kebahagiannya kembali. Mungkin dengan berpisah apa yang selama ini menjadi beban hidupnya justru hilang dan bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
Dan siapa sangka, ada beberapa manusia bertopeng di dunia ini, kenapa? Karena penampilan dan ucapan-ucapan manisnya tak seindah kelakuannya di dalam rumah tangga. Karena perangai kalemnya  hanya sebatas personal branding semata dihadapan sesamanya. Siapa sangka di media sosial ia malah asyik berselingkuh kata dan rasa dengan yang lainnya, berawal dari saling like kemudian dilanjut pesan pribadi yang akhirnya keblabasan.  Ada yang berlisan hadis, membawa bawa nama Tuhannya ketika berbicara dengan sesamanya, ternyata dia tega bermain serong dengan perempuan lain. Siapa sangka penampilan yang berbalut agamiahnya, sampai hati berselingkuh dengan wanita sekantornya. Sungguh alangkah kejinya mereka yang menghianati janji di hadapan Tuhannya kala berucap ijab qobul.
Setianya tentu sangat dipertanyakan dan ketika pengkhianatan dalam rumah tangga sudah terjadi, tentu saja ada pihak yang tak hanya tersakiti, namun sudah benar benar musnah, hancur impiannya untuk membangun keluarga sakinahnya. Oleh karena itu tentu kita harus mengambil pelajaran banyak dari kisah dan kenyataan pahit seseorang yang mengalami hal demikian.
Dan tentu saja, karena pernikahan hampir seratus persen menentukan kebahagiaan hidup, tentu kita harus berhati hati ya. Berhati-hati dalam mengasah hati dan logika saat memilih pasangan. Penjual tentu saja akan memajang dagangannya dengan cara yang menarik, dan menjual dagangannya dengan produk yang bagus. Namun sayangnya tidak semua produk yang sejenis berkondisi sama, dan produk yang sama tersebut juga belum tentu bisa kita jadikan representasi produk sejenis. Maka jadilah pembeli yang cerdas yang dibekali dengan quality control yang baik pula. Pilihlah produk yang kualitasnya tidak hanya tampak luar, tapi juga dalamnya, perlu dicek secara teliti. Dan jika yang kita pilih makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna bernama manusia, pilihlah dengan tidak melihat hanya cantik atau tampan luarnya saja, tapi yang terpenting yang baik akhlaknya, tentunya yang mau menerima kita dan yang mencintai kita seutuhnya.
Setiap manusia menyukai hal yang indah, misalnya fisik yang indah, paras cantik, wajah ganteng, dengan kondisi yang normal, keluarga yang utuh, berkecukupan, dengan latar belakang yang baik, dan seterusnya dan seterusnya yang secara umum bisa dilihat, bisa disanjung, bisa dibanggakan. Tapi coba bayangkan hal-hal fisik dan bersifat dunia material yang semuanya itu merupakan kebalikan atau lawan kata dari yang baik-baik itu. Apakah kalian masih tetap mau bertahan masih tetap setia menyukai, masih tetap konsisten mencintai dan mengasihinya seperti saat pertama kali kalian melakukan pedekate dengan calon atau gebetan incaran kalian? Coba jawab dalam diri masing-masing.
Iya saat kita menjalani penjajakan dengan seseorang, menjalani hubungan dengan seseorang, cintanya kian hari, kian bertambah, setiap hari merasakan kerinduan yang tak terkira dan tak tertahan, jiwa raga tenaga pikiran kita rela untuk memperjuangkan seseorang yang kita kasihi dan sayangi. Bagi seseorang yang menjalani hal tersebut itu adalah bentuk dan wujud cintanya juga pengorbanannya kepada kekasihnya dengan tulus dan penuh keikhlasan. Namun bagi orang lain yang melihatnya, bisa saja kalian dianggap sedang mengalami cinta buta. Apalagi jika hubungan kalian ternyata hanya bisa dibawa sampai dipersimpangan jalan perempatan saja, sudah jelas akan di cap sebagai pelaku cinta buta.
Ada pepatah yang mengatakan, kita mungkin boleh naif dengan cara berpendapat kita, sudut pandang politik kita, naif dalam hal keilmuwan, tapi tidak dengan cinta. Cinta memang kata sifat yang didalamnya penuh dengan kata kerja yang sangat tidak bisa kita logika. Cinta adalah soal keyakinan, cinta tidak bisa kita takar sepenuhnya dengan logika. Iya cinta ini, kadang-kadang tak ada logika, oh inikah rasanya cinta, tapi ku cinta tak hanya pada paras wajahmu, tak pada fisikmu, tak juga pada apa yang kamu miliki, tapi dari cara pandangmu, dari cara kau mencintaiku. Begitulah cinta, ku tak ingin kau terluka, cinta kan membawamu kembali disini, membawa rindu, membasuh perih. Cinta mari kita rasa bersama dengan hati yang murni, yang menjadi sumber cinta, yang sejujurnya, seutuhnya. "Karena cinta sesungguhnya rasionalitas yang sempurna, cinta butuh pembuktian,  cinta juga butuh pertanggungjawaban. Banyak orang mudah untuk mencinta, tapi jarang yang berani mempertanggungjawabkan cintanya"
Dan sesungguhnya yang terjadi dipernikahan tak melulu soal yang indah-indah, lurus, mulus, kaya jalan tol, gak berlubang, dan seolah fisik akan terus sehat akan terus cantik mempesona, akan terus tampan menawan. Seolah jabatan, kekuasaan akan terus kita pegang, seolah tahta, akan terus menyangga kehidupan. Tidak melulu soal itu, akan ada banyak tiupan-tiupan topan, badai, mungkin juga tsunami yang sedikit dikirim dalam rumah tangga sebagai bentuk ujian praktek kesetiaan, kekompakan, dan iman. Disitulah ujian dan seni rumah tangga  yang sangat abstrak dan sangat sulit dimaknai, lalu jika itu terjadi apakah masih tetap mau menikmatinya bersama dengan sabar ikhlas, menerimanya dengan lapang dada.
Karena itulah menikah seharusnya menjadi sebuah keputusan yang lebih besar dari sekadar, merubah status single menjadi bersuami atau beristri, merubah status menikah dalam KTP, memecahkan jawaban tabu para tetangga terhadap pertanyaan kapan nikah, karena tekanan sosial, menghilangkan rasa kesepian, biar ada yang menafkahi lahir batin, biar ada yang masakin, biar ada yang cuciin baju, biar ada yang bikinin kopi tiap pagi, biar ada yang belanjain tiap bulan, biar ada yang ngimamin kalo sholat dirumah, biar ada pendamping kalau kondangan, biar ada partner ngetrip bareng.
Menikah tentu lebih dari itu, jauh lebih dalam maknanya dan menjalaninya lebih dari kebutuhan fisik belaka. Menikah adalah persoalaan menerima sisi buruk dan sisi baik seseorang, menerima diri seseorang dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menerima keluarga besarnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menerima masa lalu seseorang dan siap menjalani masa depan dengan seseorang  bersama. Menikah adalah persolaan rela dalam menjalani hak dan kewajiban masing-masing, menjalani dengan sadar rela ikhlas tanpa paksaan masing-masing peran suami dan peran istri. Menikah adalah persoalaan keikhlasan dalam menjalani kesenangan dan kesengsaraan bersama dengan ikhlas dan rela tanpa saling menyalahkan. Menikah adalah persoalan menerima perubahan baik fisik, psikis, mental dalam tiap keadaan yang terjadi dalam rumah tangga.  Menikah adalah persoalan siap membangun kehidupan bersama dari nol. Menikah adalah persoalan menjaga dan membangun sikap konsisten dalam jiwa masing-masing pasangan ketika memupuk kesetiannya detik demi detik. 
Menikah adalah persoalan saling menjaga kehormatan, saling menjaga aib bersama, saling menjaga harga diri suami dan istri, menjaga mata, telinga, hati, dari godaan nafsu syeitan dunia yang wujudnya bisa beraneka ragam. Menikah adalah persoalan menjaga perasaan masing-masing pasnagan, menikah adalah saling pengertian dalam rumah tangga, menikah adalah persoalan untuk rela mau saling berbagi suka dan duka, menikah adalah persoalan keimanan dan keyakinan bahwa Rejeki Tuhan Sudah Tertakar, dan Jodoh Tak Mungkin Tertukar.
Menikah adalah persoalan saling menjaga kekompakan bersama. Menikah itu tidak sulit, menikah itu murah, menikah itu tidak ribet, menjalaninya harus dengan ikhlas butuh ke iya an dan keyakinan sungguh-sungguh. Karena menikah adalah keputusan besar yang amat hebat, luar biasa, yang Alloh SWT berikan bagi seseorang yang sudah mengetahui hukum wajib menikah. Menikah adalah anugerah yang Alloh SWT berikan bagi seseorang yang memiliki kadar iman, keyakinan dan terus berkhusnudzon kepadaNya. Menikah adalah persoalan untuk berkeinginan belajar, mau membangun, mempraktikan, juga membuktikan bersama-sama wujud cinta yang sesungguhnya seserorang yang saling mencintai pada universitas kehidupan. Pernikahan tidak akan terjadi kepada salah seorang saja yang menginginkannya, kepada salah seorang saja yang berniat menyempurnakan agama. Tapi pernikahan terjadi kepada dua orang insan yang sama-sama siap, yang sama-sama menginginkannya, yang sama-sama berniat suci menyempurnakan agama dan berkeimanan kuat, juga memiliki keberanian yang sesungguhnya dalam membangun kehidupan baru pada penerimaan ketidaksempurnaan menjadi keluarga yang sempurna, dengan berkomitmen untuk terus berjalan dan selalu tetap bersama selamanya. 
Jadi saya sungguh salut untuk semua makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia, yang dalam menjemput agamanya telah disempurnakan untuk terus berjalan di jalanNya salah satunya dengan pernikahan. Karena bagi manusia yang masih takut rejekinya tidak bisa untuk mencukupi keluarganya nantinya, bagi manusia yang masih takut terampas masa senangnya, bagi manusia yang masih takut terampas masa-masa berkumpulnya dengan kolega atau temannya, bagi manusia yang masih takut tak bisa berkembang karena menikah, itu mungkin akan jauh untuk mendapatkan hidayah untuk membuat keputusan menikah. Manusia yang hanya berani mengumbar kata manis, pemberi harapan palsu, atau berharap pada harapan palsu itu mungkin masih jauh dalam menjemput hidayah untuk membuat keputusan menikah. Dan menikah juga persoalan menjawab sekaligus menghadapi tantangan dan ujian pepatah “Pria diuji kesetiaannya ketika ia memiliki segalanya. Wanita  diuji kesetiaannya ketika sang pria tidak memiliki apa-apa”. Dan itu tidak akan terjadi pada pernikahan yang dilandasi saling cinta dan saling memiliki keimanan yang terbangun dengan kemurnian hati. Katanya manusia memiliki kecenderungan untuk mendua. Tapi bagi saya hanya manusia yang hidupnya berpegang teguh pada imannya lah yang tetap bertahan untuk tetap satu saja apa pun dan bagaimanapun keadaan yang dialaminya. Karena seseorang yang memiliki kemurnian cinta pada pasangannya dan keimanan yang baik pada Tuhannya, justru tidak akan membiarkan rumah tangganya rapuh, tapi justru ia akan selalu berusaha sampi titik darah penghabisan membangun bersama demi istana sakinahnya menuju jannahNya. Tidak percaya? Coba lihat pernikahan kedua orang tua kita, kakek nenek, buyut kita jelas sudah teruji kesetiaannya.
Dan saya masih sangat sangatlah jauh dari itu, tapi saya selalu berusaha belajar dari orang-orang disekeliling saya, terimakasih kehidupan. Dan aku kan menjemputmu di waktu yang tepat dan tepat waktu.
Cinta dan jodoh satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, jodoh juga bukan perkara yang mana yang lebih mencintai atau hanya dicintai saja, tapi jodoh itu saling mencintai, jodoh itu bukan saling mencari, tapi saling menemukan, jika memang cinta dan yakin jodohmu ia tak kan membiarkanmu lama menunggu, namun memberimu kepastian. Bukan juga mencari yang sempurna, namun saling menyempurnakan :). 

Mei 15, 2017

Perjanjian Abadi Datangnya dari Hati

Kejujuran, komitmen dan komunikasi adalah paket mutlak sebuah langgengnya hubungan.
Setiap orang tentunya memimpikan hubungan yang awet  dengan pasangannya. Untuk membuat hubungan yang awet ini tentunya butuh bahan pengawet, yang ga mudah ditemukan di sembarang tempat, bahan pengawet alami yang berasal dari kemurnian hati, bahan pengawet itu terdiri dari kejujuran, komitmen, dan komunikasi. Ketiga bahan pengawet tersebut adalah paket mutlak yang tak bisa dibeli dengan materi, mereka hanya akan bisa didapatkan oleh masing-masing hati yang sama-sama berada pada satu tujuan.
Kejujuran, komitmen dan komunikasi akan bisa “ada” pada masing-masing hati manusia yang mempunyai rasa yang sama, mereka tumbuh dengan waktu, mereka tumbuh tidak dengan cara yang instan, mereka butuh disiram dengan air ketulusan, dipupuk dengan pengertian, disiangi agar tak ditumpangi rumput rumput parasit yang mengganngu pertumbuhan, dan terus diperhatikan kadar penyinarannya agar tumbuhnya sempurna. Mereka akan berbunga saat makhluk pemilik hati dengan rasa yang sama, menyatu pada sebuah ketulusan hati, tanpa paksaan, penuh kerelaan, satu sama lain.
Disaat masing-masing adam dan hawa memiliki kecenderungan untuk mendua, yakinlah akan ada salah satu yang sudah Ia persiapkan untuk kita, satu adam dan satu hawa untuk bersama pada satu hati. Tanpa butuh kata aku berjanji padamu, namun dia berkomitmen dengan penuh ketulusan pada hatinya hanya untukmu satu saja. Bahkan ia akan menjaga pandangannya, akan menjaga perasaannya, akan menjaga pikirannya, akan menjaga sikap perilakunya, akan menjaga jasmani dan rohaninya untukmu saja karenaNya dengan imannya. Karena Perjanjian Abadai Datangnya dari Hati. Saksinya adalah diri sendiri dan Dia Yang Maha Tahu, pembuktiannya juga tercatat oleh pengawalNya yang tak pernah luput. Biarlah risau berlalu, teruslah memperbaiki diri, agar bertemu pada waktu yang tepat, agar penantianmu terjawab oleh orang yang tepat.

Ketika gerbang kehidupan baru datang, tanamlah tumbuhan kejujuaran, tumbuhan komitmen, dan tumbuhan komunikasi agar bunganya menebarkan harum aroma kesetiaan yang mewangi, berkumpul dengan sejuknya udara dunia, hingga tercium pada langit di atas sana dan terus tersimpan di tanah bumi, dan terus dinanti oleh peri-peri kecil penjaga hati adam dan hawa yang murni.

Mei 14, 2017

Maaf Jika Diam-diam Aku Menyebutmu dalam Doa

Yogyakarta, 5 Januari 2016



Dalam jantung kehidupan, ada satu yang selalu berhasil membuat manusia, menjadi senang, menjadi gembira, menjadi senyum-senyum sendiri, menjadi good mood, menjadi berubah tak beralasan, kadang gundah, kadang resah tak jarang juga rindu datang tiba-tiba, yaitu ketika rasa yang spesial itu mulai ada.  Aku pun bertanya, Kau begitu dahsyatnya memberikan satu rasa ini pada hati manusia, sungguh aku berusaha agar rasa ini tetap tidak berlebihan, dan tidak mengalahkan rasaku padaMu.

Teruntuk seseorang yang sering membuatku tersenyum-senyum, terimakasih sudah hadir dalam salah satu episode kehidupanku, kamu yang sudah merelakan rasamu jujur juga pada rasaku, dan akupun sama merasakannya, terimakasih untuk mau berbagi motivasi, berbagi semangat, berbagi ide-ide tentang apa saja, berbagi ilmu dalam pertemanan, menyatukan perasaan yang sama dan berbagi kisah bersama hingga saat ini.

Terimakasih untuk terus memegang harapan-harapan, bersama dalam satu rasa yang sama, memegang semangat dan tujuan yang sama, hingga saat ini. Hidup memang tak melulu lurus dan mulus, hidup tak melulu berwarna–warni seperti pelangi, atau seindah fatamorgana yang hadir dalam perpaudan panas dan hujan. Terkadang hidup perlu gelombang agar kita tidak mudah goyah, terkadang hidup perlu hembusan angin agar kita tak mudah tumbang, hidup juga butuh guntur agar kita tidak menutup diri dari kamlufase duniawi.

Saat usia rasa kita ini menginjak dewasa, tentunya akan ada perubahan tujuan-tujuan, yang tadinya kita naik tangga sendiri-sendiri, atau kadang naik tangga bergantian aku duluan atau kamu duluan, mulai berpikir untuk bisa naik tangga bersama-sama, membangun prinsip yang lebih bernilai, rasa yang tak sekedar rasa saja, saat suka dan duka saling hadir untuk ada, untuk cerita, untuk bertanya, untuk menjawab, untuk memastikan untuk mengerti, untuk memahami, untuk mau rela berkorban, untuk mau berjuang satu sama lain, bersama-sama. 

Untukmu yang mempunyai kejujuran rasa yang sama, terimakasih untuk mau mendewasa bersama-sama hingga kini, walau kita berada dibidang yang berbeda, walau kita berada di sifat yang kontras, terimakasih selalu ada alasan untuk kompak, terus ada untuk kita.
Tahukah kamu, entah mengapa dan entah kapan tepatnya mengapa hatiku dengan sangat rela mulai menyematkanmu dalam tiap sujud-sujudku, dalam kesehatan lahir batin, dalam nikmat iman , dalam kelancaran studimu, dalam kelancaran karirmu dan dalam kesetiaanmu untuk terus menjadi seseorang yang selalu ada dan menari nari dalam pikiranku.

Maafkan aku yang diam-diam berani menyebutmu dalam tiap sujudku, aku hanya berusaha menyeimbangkan rasa ini agar tidak berlebihan, aku hanya berusaha me-manage harapan ini agar tidak berlebihan, aku hanya  berusaha menata hati ini agar tidak berlebihan, dan aku hanya ingin menjalani fitrahnya sebagai manusia yang berikhtiar pada jalanNya, yang selalu berusaha dan berdoa penuh agar Dia mengijabah satu persatu yang dipanjatkan.

Maafkan aku yang diam-diam menyematkanmu dalam tiap sujudku, aku hanya berusaha meminta dengan sepenuh hati ditunjukkan padaNYa sebagai manusia yang diberi fitrah tidak bisa hidup sendiri, untuk teman hidup di dunia hingga akhirat yang setia dalam suka, duka, dalam iman, dalam ujian, dalam kegetiran, dalam kebahagiaan, dalam kasih dan sayang yang Ia ridhoi.

- Untukmu yang membuatku berhenti cukup pada satu hati, semoga Alloh menghimpun doa dan tujuan kita, mengijabahnya satu persatu diwaktu yang tepat -

*******************************************************************************



Dear Masa Lalu, Aku Merindumu


Yogyakarta, 6 Desember 2016




Hai 2016, hai 2015, hai 2014, hai masa lalu yang nano nano, aku merindukan momen momenmu itu.
Ada awal ada akhir, iya awal dan akhir menurutku sesuatu yang indah, bahkan moment yang benar benar indah nantinya akan terkalahkan indah dari moment getirmu yang berhasil kau taklukan dengan waktu.

Entah apa yang membuatku berhasil memutar mesin waktu yang mengingatkanku pada hari hari masa silam. Hari-hari dimana pikiran hanya seputar impian, harapan, cita-cita, perjalanan, pertemanan, petualangan, komunitas, reuni. Hari-hari dimana bisa bangun pagi, berangkat kampus dengan semangat, bisa menaklukan ujian tengah semester, menaklukan proposal-proposal event, menaklukan jadwal kegiatan luar kampus, menikmati indahnya begadang ngerjain tugas bersama teman-teman, jalan-jalan sekedar melepas penat, cekcok dalam organisasi, konflik pendapat saat project kuliah, ahh kalian semua indah ya.

Terimakasih kalian moment-moment indah, moment-moment tegang dikejar deadline, moment-moment panas saat perdebatan berlangsung saat melontarkan ide A ide B hingga tercetuslah ide “kita”, terimakasih masa lalu yang membangun, masa lalu yang membuat aku berpikir positif bahwa hidup itu indah, bahwa manusia-manusia di dunia ini baik, bahwa mencari teman yang tulus itu mudah, bahwa mencari kejujuran, mencari kebenaran itu wajib.

Hingga tibalah proses perpisahan ini berlangsung, tidak dengan tiba-tiba, tapi aku sadar bahwa hidup tak selama-lamanya akan bersama dalam satu ruang dengan populasi yang kita mau saja. Tak mengapa karna kita semua hanya berpisah dalam ruang saja, tapi aku tahu, tujuan kita sama, sama-sama mencapai impian kita, terimakasih teman-teman untuk hadir dalam bagian hidupku, memaknai ini bersama dalam sebuah kenangan yang indah. Kalian jauh dimata namun, dekat dihati, dan jika tua kita nanti telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini, See You on Top Guys

*******************************************************************************


Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut