November 27, 2011

Cultural Lag and Social Group Vs Dehumanisasi


Menurut William F. Ogburn, Cultural Lag terjadi jika perubahan material lebih dominan dibanding Immaterial, sehinga berpotensi menimbulkan dehumanisasi karena tergerusnya nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat.
Perubahan material yang lebih dominan ini disebabkan karena adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat. Adanya perubahan material yang lebih cepat ini merubah cara pandang serta sikap masyarakat yang menjadi lebih mementingkan kepentingan duniawi saja . Adanya globalisasi yang kian hari penyebarannya kian cepat, informasi tentang segala hal, baik itu dalam hal politik, sosial, budaya, dan gaya hidup, juga semakin mudah di dapat. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mendapatkannya dimanapun, kapanpun tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun sayangnya, semua itu tidak diimbangi dengan nilai-nilai moral, etika, dan agama. Sehingga menimbulkan pengaruh yang menyimpang terhadap norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Masyarakat akan lebih terkonsentrasi terhadap perkembangan zaman, teknologi dan trend yang populer di masa kini. Sehingga masyarakat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebutuhan material itu demi meningkatkan gengsi dan terpenuhinya kepentingan pribadi. Seperti dengan melakukan korupsi,dengan kriminalitas, kekerasan bahkan dengan pelecehan. Dan pada akhirnya nilai-nilai luhur yang ada pada masyarakat yaitu etika, moral dan agama semakin pudar. Mereka lebih mementingkan kepentingan duniawi tanpa memikirkan kebutuhan rohani mereka pada Sang Pencipta. Masyarakat kini semakin acuh dan tidak peka terhadap permasalahan sosial di sekitarnya, kurang peduli terhadap budaya sendiri, kurang bisa menghargai serta menghormati antar anggota masyarakat. Sehingga dehumanisasi ini terjadi karena masyarakat mengesampingkan aturan, aspek norma dan nilai serta agama. Dan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur di dalam masyarakat, perlu adanya kesadaran pada masing-masing individu untuk meningkatkan kepercayaan agama serta kitabnya agar dijadikan pedoman dalam menjalani hidup.
George Simmel : kelompok sosial dapat dilihat dari besar kecilnya anggota kelompok. Bagaimana individu mempengaruhi anggota kelompok, serta bagaimana interaksi sosial berlangsung dalam kelompok tersebut.
Menurut George Simmel bentuk terkecil dari kelompok sosial terdiri dari satu orang sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakan monad, kemudian monad dikembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang yang disebut dyad dan triyad. Serta kelompok-kelompok kecil lainnya. Di samping itu, sebagai perbandingan, Simmel menelaah kelompok-kelompok yang lebih besar, yaitu kelompok yang anggotanya masih saling mengenal (face to face groupings). Contoh kelompok jenis ini adalah keluarga, rukun tetangga, dan desa. Kelompok itu dapat berkembang juga menjadi kelompok-kelompok sosial yang lebih luas seperti kota, korporasi, dan negara, di mana anggota-anggotanya tidak memiliki hubungan yang erat.
Kelompok sosial monad itu seperti misalnya kita sebagai individu,yaitu saya seorang diri yang berinteraksi dengan diri sendiri. Kelompok sosial dyad misalnya saya dengan ibu, dan kelompok sosial tryad saya, ibu dan ayah. Kelompok sosial tersebut mempunyai hubungan yang erat, karena mempunyai hubungan darah. Jadi walaupun antara saya, bertempat tinggal terpisah dengan ayah dan ibu, interaksi sosial tetap berjalan intim, karena adanya ikatan batin yang kuat dan hubungan darah. Kelompok sosial yang lebih besar seperti misalnya keluarga, tetangga, dan desa yang anggota masyarakatnya masih saling mengenal dan terjadi interaksi yang harmonis karena terdapat organisasi masyarakat yang berbasis kekeluargaan. Sedangakan kelompok-kelompok sosial yang lebih luas lagi seperti kota, korporasi dan Negara, hubungan interaksinya tidak sedekat seperti yang lainnya, karena cakupannya lebih luas. Sehingga kelompok sosial yang anggotanya lebih kecil dan bertempat tinggal berdekatan dalam satu komplek, justru lebih mudah dalam melakukan pendekatan pribadi, lebih mudah bersosialisasi, dan akan terjalin rasa kekeluargaan yang erat. Sedangkan kelompok sosial yang anggotanya lebih banyak dan cakupannya lebih luas, membutuhkan waktu dan proses yang lama dalam melakukan pendekatan, sehingga hubungan sosial antar individu tidak erat, bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain.

Social Construction by Media

Peter L Berger dan Thomas Luckmann beranggapan bahwa konstruksi sosial atas realitas muncul berkaitan dengan pemikiran manusia dan konteks sosial dimana pemikiran itu berkembang dan dilembagakan. Bagaimana gagasan tentang konstruksi sosial tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh media.
Konstruksi Sosial adalah penggambaran proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dialami dan dimiliki secara subyektif. Menurut Berger dan Luckmann terdapat dialektika antara individu yang menciptakan masyarakat dan masyarakat yang menciptakan individu. Dialektika tersebut tercipta melalui proses Eksternalisasi, Obyektivasi dan Internalisasi yang terjadi di dalam masyarakat.
Sebenarnya proses konstruksi sosial dalam masyarakat membutuhkan proses dan waktu yang lama. Namun seiring berkembangnya zaman yang semakin modern, proses konstruksi sosial ini mengalami transisi yang cepat, dari masyarakat yang lamban menerima informasi kini menjadi cepat dalam menerima informasi. Terlebih kini dengan hadirnya media yang menjadi salah satu agen konstruksi sosial atas realitas. Dan salah satunya adalah media televisi. Televisi membentuk realitas sosial sebagai gambaran realitas media atau realitas virtual yaitu dunia yang hanya ada dalam media televisi.
Televisi merupakan salah satu media yang paling mempengaruhi terciptanya konstruksi sosial dalam masyarakat tentang sebuah realitas. Substansi konstruksi sosial media massa adalah pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas sehingga konstruksi sosial yang berlangsung sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu juga membentuk opini massa, masyarakat menjadi lebih kritis dalam menerima informasi. Posisi konstruksi sosial media massa adalah mengoreksi substansi kelemahan dan melengkapi konstruksi sosial atas realitas, dengan menempatkan seluruh kelebihan media massa dan efek media pada keunggulan konstruksi sosial media massa atas konstruksi sosial atas realitas. Namun, proses yang digambarkan di atas tidak bekerja secara tiba-tiba, dan terbentuknya proses tersebut melalui beberapa tahap penting.
Sebenarnya media juga mempunyai keberpihakan terhadap kapitalis. Hampir semua televisi mempunyai kepentingan khusus sesuai dengan apa yang diinginkan sang pemilik industri media itu sendiri. Media menjadi ajang peraih keuntungan. Sehingga tujuannya sekarang adalah mengambil banyak keuntungan. Dan tidak sedikit dari media yang hanya sekadar menjual berita saja, dengan mempertontonkan berita yang berlebihan sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk menontonnya.
Seharusnya isi media itu objektif, sesuai visi misi media yang edukatif, entertaint, dan kontrol sosial. Namun kenyataannya akhir akhir ini tak pernah memberikan berita yang objektif, cenderung berisi kepentingan subjektif sang pemilik media. Dan pada kenyataannya apa yang media tampilkan cenderung ke bias realitas (tidak sesuai dengan realitas). Sehingga kecenderungan masyarakat selalu dikonstruksi oleh media, mengacu pada media, dengan kata lain media mempengaruhi masyarakat. Seringnya mendapat terpaan informasi, justru membuat masyarakat semakin menjadi bingung. Masyarakat dibingungkan oleh informasi yang bermacam macam, mempunyai versi yang berbeda-beda dari stasiun tv yang satu dengan stasiun tv yang lain.
Tahap pembentukan konstruksi realitas di mana pemberitaan telah sampai pada pembaca dan pemirsanya, yaitu terjadi pembentukan konstruksi di masyarakat melalui tiga tahap yang berlangsung. Pertama, konstruksi realitas pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbentuk di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang ada (tersaji) di media massa sebagai suatu realitas kebenaran. Kedua, kesediaan dikonstruksi oleh media massa, yaitu sikap yang pokok dari tahap pertama. Bahwa pilihan orang untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa adalah karena pilihannya untuk bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh media massa. Ketiga, menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif, di mana seseorang secara habit atau dalam kesehariannya tergantung pada media massa. Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak terpisahkan dan tidak bisa dilepaskan.
Kemudian konstruksi juga terjadi dalam konstruksi citra, yang dimaksud bisa berupa bagaimana konstruksi citra pada sebuah pemberitaan ataupun bagaimana konstruksi citra pada sebuah iklan. Yang selanjutnya adalah tahap konfirmasi, yaitu tahapan ketika media massa maupun pembaca dan pemirsa memberi argumentasi dan kepercayaannya terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasan-alasannya konstruksi sosial. Sedangkan bagi pemirsa dan pembaca, tahapan ini juga sebagai bagian untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.

The Mc Donaldization in Industry Media "TV"

The Mc Donaldization of Society adalah konsep Goerge Ritzer yang dipengaruhi oleh perspektif Weber tentang konsep “rasionalitas”. Bagaimana konsep tersebut jika diterapkan untuk memahami pengelolaan dan perkembangan industri media terutama televisi.
Mc Donaldisasi adalah proses di mana berbagai prinsip restoran fast food hadir untuk mendominasi lebih banyak sektor kehidupan Amerika serta berbagai belahan dunia yang lain. Kehadiran McDonald benar-benar telah menempati posisi sentral dalam kultur masyarakat. Dimensinya meliputi efisiensi, daya prediksi, daya hitung, dan kontrol melalui teknologi non-manusia dalam kesatuan sistem operasionalnya. Orang-orang lalu tertarik, jatuh cinta, dan akhirnya berkutat dengan keempat komponen yang merupakan dasar sistem rasional tersebut. Semuanya dilakukan dengan tujuan rasional yang ujungnya menghasilkan keuntungan. Dan karena sukses, berbondong-bondonglah orang meniru prinsip di atas. Konsep Mc Donaldisasi ini mengedepankan birokrasi yang efisien, efektif, cepat, instan dan menguntungkan. Selain itu Mc Donaldisasi telah merubah habitual masyarakat secara paksa untuk menjadi sama, dan seolah gaya hidup Mc Donald ini menjadi poros utama referensi dalam memenuhi gaya hidup modern sehari hari.
Virus Mc Donald ini sesungguhnya berakar dari ide rasionalitas, yang bisa diartikan sebagai penggunaan pikiran untuk menentukan untung-rugi segala sesuatu. Pertanyaannya, benarkah semua prinsip itu membawa kita ke arah yang lebih baik?. Dalam beberapa hal, harus diakui ya. Tapi dalam banyak hal lain, yang terjadi adalah ironi. Manusia jadi kehilangan rasa kemanusiaannya. Hal ini tak mengherankan, karena manusia sesungguhnya hidup bukan hanya dengan rasionalitas, tapi juga nilai-nilai. Dan nilai-nilai tersebut, termasuk di dalamnya keyakinan/ iman, bisa jadi yang utama diperjuangkan ketimbang sekadar urusan untung-rugi.Dan dengan konsep rasionalitas inilah menimbulkan adanya homogenitas dimana masyarakat hanya mempunyai pilihan yang kecil yang telah tersistem menjadi pilihan yang optimal. Selain itu pada kenyataannya rasionalitas ini juga menimbulkan dampak dehumanisasi. Dimana hubungan interaksi antar manusianya berkurang dan terbatas.
Sepertinya, prinsip Mc Donaldisasi ini telah menjamur hingga ke seluruh dunia, tidak hanya pada industri pemenuhan kebutuhan makan saja, namun media kini nampaknya juga telah mengadopsi konsep ini. Industri media utamanya pertelevisian kini berlomba lomba menyuguhkan acara yang dapat menarik perhatian masyarakat, seperti misalnya ajang pencarian bakat, Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Akademi Fantasi Indonesia. Masyarakat hanya berpikir, ajang pencarian bakat ini adalah jalan satu satunya untuk merubah nasib mereka menjadi idola dan berpenghidupan layak. Dengan cara instan inilah para kontestan rela berbondong bondong antri berdesak desakan untuk melakukan audisi. Para penonton pun sekaligus pendukungnya juga rela mengantre panjang demi ingin memberikan semangat dan menonton idolanya. Setelah lolos audisi para kontestan ini dikontrol dan diatur sedemikian rupa sesuai dengan keinginan juri. Prinsip kontrol inilah yang diadopsi dari Mc Donald. Hampir setiap stasiun tv mempunyai program acara pencarian bakat ini, yang terkadang tidak memprioritaskan kualitas keluarannya.
Konsep Mc Donald ini juga diterapkan dalam perindustrian bioskop atau tempat nonton film. Dimana bioskop itu birokrasinya telah tersususn secara sistematis. Mulai dari pembelian tiket atau ticketing, masuk kedalam ruang bioskop, hingga peraturan yang ada didalam bioskop, sampai sistem keluar ruang bioskop itu sendiri. Padahal sebenarnya jika dipikir ulang menonton film adalah hal yang biasa. Namun karena berkembangnya zaman, menonton film kini menjadi sebuah gaya hidup modern yang tak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia. Mereka lebih dianggap mempunyai status sosial yang tinggi jika nonton film di bioskop daripada hanya sekedar nonton film dirumah saja, walaupun sebenarnya film yang ditonton itu sama saja.
Sebenarnya menonton film dirumah itu lebih leluasa, lebih enak, lebih nyaman, dan bisa melakukan hal apa saja semau kita, tanpa terbatasi oleh peraturan yang ada seperti di bioskop pada umumnya. Namun sekali lagi karena gaya hidup yang telah berubah, dari hal yang biasa menjadi sesuatu hal yang luar biasa. Dari yang tradisional menjadi modern, dari yang membutuhkan proses hingga secara instan. Namun memang hal seperti inilah yang sepertinya diinginkan oleh masyarakat, yang ingin menjadi masyarakat modern seutuhnya. Walaupun sebenarnya mereka secara perlahan lahan sedang melunturkan sosialisasi yang bernilai dalam berinteraksi dan menjalani kehidupan sehari hari. Hal inilah yang disebut dehumanisasi, menurunnya hubungan sosial manusia yang satu dengan yang lain. Tidak ada proses tawar menawar harga, karena semuanya telah tersistem. Jadi komunikasi antar manusianya pun semakin berkurang.


Bungaa Tulip. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto saya
Penikmat kata-kata || Mari berjalan bersama untuk banyak tujuan, menjelajahi masa-masa, kalau jatuh istirahatlah sebentar saja bangun lagi jalan, perlu juga kau injak injak kerikil biar tahu nikmatnya rasanya sehat| Temulawak pahit akan tetapi bikin sehat, begitulah kehidupan

Pengikut