
Menurut William F. Ogburn, Cultural Lag terjadi jika perubahan material lebih dominan dibanding Immaterial, sehinga berpotensi menimbulkan dehumanisasi karena tergerusnya nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat.
Perubahan material yang lebih dominan ini disebabkan karena adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat. Adanya perubahan material yang lebih cepat ini merubah cara pandang serta sikap masyarakat yang menjadi lebih mementingkan kepentingan duniawi saja . Adanya globalisasi yang kian hari penyebarannya kian cepat, informasi tentang segala hal, baik itu dalam hal politik, sosial, budaya, dan gaya hidup, juga semakin mudah di dapat. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mendapatkannya dimanapun, kapanpun tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun sayangnya, semua itu tidak diimbangi dengan nilai-nilai moral, etika, dan agama. Sehingga menimbulkan pengaruh yang menyimpang terhadap norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Masyarakat akan lebih terkonsentrasi terhadap perkembangan zaman, teknologi dan trend yang populer di masa kini. Sehingga masyarakat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebutuhan material itu demi meningkatkan gengsi dan terpenuhinya kepentingan pribadi. Seperti dengan melakukan korupsi,dengan kriminalitas, kekerasan bahkan dengan pelecehan. Dan pada akhirnya nilai-nilai luhur yang ada pada masyarakat yaitu etika, moral dan agama semakin pudar. Mereka lebih mementingkan kepentingan duniawi tanpa memikirkan kebutuhan rohani mereka pada Sang Pencipta. Masyarakat kini semakin acuh dan tidak peka terhadap permasalahan sosial di sekitarnya, kurang peduli terhadap budaya sendiri, kurang bisa menghargai serta menghormati antar anggota masyarakat. Sehingga dehumanisasi ini terjadi karena masyarakat mengesampingkan aturan, aspek norma dan nilai serta agama. Dan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur di dalam masyarakat, perlu adanya kesadaran pada masing-masing individu untuk meningkatkan kepercayaan agama serta kitabnya agar dijadikan pedoman dalam menjalani hidup.
Menurut George Simmel bentuk terkecil dari kelompok sosial terdiri dari satu orang sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakan monad, kemudian monad dikembangkan dengan meneliti kelompok-kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang yang disebut dyad dan triyad. Serta kelompok-kelompok kecil lainnya. Di samping itu, sebagai perbandingan, Simmel menelaah kelompok-kelompok yang lebih besar, yaitu kelompok yang anggotanya masih saling mengenal (face to face groupings). Contoh kelompok jenis ini adalah keluarga, rukun tetangga, dan desa. Kelompok itu dapat berkembang juga menjadi kelompok-kelompok sosial yang lebih luas seperti kota, korporasi, dan negara, di mana anggota-anggotanya tidak memiliki hubungan yang erat.
Kelompok sosial monad itu seperti misalnya kita sebagai individu,yaitu saya seorang diri yang berinteraksi dengan diri sendiri. Kelompok sosial dyad misalnya saya dengan ibu, dan kelompok sosial tryad saya, ibu dan ayah. Kelompok sosial tersebut mempunyai hubungan yang erat, karena mempunyai hubungan darah. Jadi walaupun antara saya, bertempat tinggal terpisah dengan ayah dan ibu, interaksi sosial tetap berjalan intim, karena adanya ikatan batin yang kuat dan hubungan darah. Kelompok sosial yang lebih besar seperti misalnya keluarga, tetangga, dan desa yang anggota masyarakatnya masih saling mengenal dan terjadi interaksi yang harmonis karena terdapat organisasi masyarakat yang berbasis kekeluargaan. Sedangakan kelompok-kelompok sosial yang lebih luas lagi seperti kota, korporasi dan Negara, hubungan interaksinya tidak sedekat seperti yang lainnya, karena cakupannya lebih luas. Sehingga kelompok sosial yang anggotanya lebih kecil dan bertempat tinggal berdekatan dalam satu komplek, justru lebih mudah dalam melakukan pendekatan pribadi, lebih mudah bersosialisasi, dan akan terjalin rasa kekeluargaan yang erat. Sedangkan kelompok sosial yang anggotanya lebih banyak dan cakupannya lebih luas, membutuhkan waktu dan proses yang lama dalam melakukan pendekatan, sehingga hubungan sosial antar individu tidak erat, bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain.

